Aku, Adinda Si Anak Keempat


Faktaanak.com - Namaku Adinda, aku merupakan anak ke-empat dari lima bersaudara. Aku lahir dengan jarak yang begitu jauh dengan kakak-kakakku. Usiaku dengan kakak ketiga ku terpaut kurang lebih 18 tahun. Keluarga ku merupakan keluarga dewasa karena anak pertama Ibuku sudah berumur diatas 20 tahun ketika aku lahir. Dahulu aku bagaikan seorang putri kecil yang dikelilingi oleh orang-orang yang teramat sayang padaku. Karena, segala kebutuhanku tercukupi tanpa kekurangan sedikitpun. 

Lahir Sebagai Putri Kecil

Hingga tiba-tiba lahirlah seorang putri kecil lain dari perut Ibuku. Masih sangat jelas di ingatanku karena usiaku saat itu menginjak usia empat tahun. Pada saat itu aku sangat tidak menyukai kehadiran putri lain dari Ibuku. Bahkan aku tidak mau bertemu dengan adik kecilku. Aku selalu menangis kencang jika Ibuku lebih mencurahkan perhatiannya pada adikku. Ku pikir aku lah putri terakhir di keluarga ini tapi ternyata aku masih diberikan seorang adik kecil.yang semula ku piker dial ah saingan ku di keluarga ini.


Adikku Sangat Menggangguku

Tahun demi tahun aku lalui. Memiliki seorang adik rupanya tidak melulu menjengkelkan. Terkadang aku bahagia karena memiliki teman bermain. Namun,terkadang aku merasa adik kecil ku sangat mengangguku. Pernah suatu ketika aku berkesempatan mengikuti study tour dari sekolah ku. Pada saat itu aku berada di kelas 2 SD. Ketika aku bersama Ibuku sedang bersiap pergi untuk study tour keesokan harinya tiba-tiba saja adikku mengalami demam yang tinggi. Akhirnya Ibuku memutuskan untuk tidak pergi study tour karena kondisi adikku. Tentu saja aku merengek karena hal itu. Ayahku yang mendengar suara ku menangis pun rupanya geram denganku. Aku di marahi beliau waktu itu, karena aku takut aku pun mengadu kepada kakak laki-laki ku tapi kondisi nya tidak jauh berbeda. Akhirnya aku tetap tidak bisa pergi study tour.

Bukan hanya itu saja, beberapa kali adikku kerap kali mengalami sakit mendadak ketika ada acara besar atau kegiatan lain yang mengaharuskan keluar rumah. Hal itu membuat ku jengkel setengah mati padanya. Hingga beranjak dewasa, aku justru lebih merasakan perlakuan tidak adil dari kedua orang tua ku. Jika adikku meminta sebuah barang orang tua ku pun tidak segan untuk segera membelikannya bahkan rela mencari barang tersebut sampai ketemu. Karena jika tidak segera dibelikan adikku akan sakit dan akan sembuh jika keinginannya sudah terpenuhi.

Pernah suatu ketika, adikku meminta sebuah telepon genggam karena melihat tante ku memiliki telepon genggam. Memang pada saat itu telepon genggam nya tidak secangguh sekarang. Tapi aku merasa permintaan adikku sangatlah keterlaluan. Orang tua ku pun segera membelikan senuah telepon genggam. Karena hal itu aku pun meminta dibelikan sebuah buku cerita kepada orang tua ku namun hasilnya nihil. Aku tidak dibelikan buku cerita karena uang nya sudah dibelikan telepon genggam untuk adikku.


Beda Perlakuan antara Aku dan Adikku

Aku merasa bahwa aku bukanlah anak kandung kedua orang tua ku karena aku meraskan hal-hal yang tidak adil terjadi padaku. Aku merasa dibuang karena tidak pernah diperhatikan. Aku selalu disbanding-bandingkan oleh orang tua ku. Bahkan aku merasa segala kemampuan dan prestasi ku hanya ditanggapi biasa saja oleh orang tua ku. Sedangkan ketika adikku bahkan hanya mendapat peringkat 10 di kelas nya mereka mengapresiasi dengan sangat istimewa. Mereka membelikan sebuah sepatu yang diinginkan adikku.

Aku yang sering mendapat peringkat tiga besar di sekolah tidak pernah mendapat hadiah apapun dari mereka. Aku hanya mendapat doa dan diberi semangat untuk terus berusaha lebih giat lagi. Hal ini terus aku alami sampai aku menginak bangku SMP. Namun aku hanya bisa diam saja. Aku hanya mencurahkan perasaanku pada buku diary yang aku punya. Aku adalah orang yang sangat pendiam ketika SD sampai dengan SMP. Aku bahkan menutup diri dari lingkungan karena merasa tidak dihargai. Aku sangat pemalu pada waktu itu.

Putri Kecil Kembali Lagi

Sampai suatu ketika entah kenapa orang tua ku bersikap beda denganku. Hal itu baru ku rasakn ketika aku menginjak kelas 12 SMA. Yaa meskipun hanya sedikit yang berubah tapi setidaknya aku merasa lebih diperhatikan. Tapi aku sangat bahagia sekali waktu itu. Kemudian menjadi lebih perhatian ketika aku menginajk bangku kuliah. Apalagi aku berkulaih dengan jarak yang jauh dari orang tua ku. Setiap hari bahkan mereka menelepon ku, menanyai kabarku dan sangat antusias ketika aku di rumah sehingga aku merasakan kembali menjadi seorang putri kecil.

Entah mengapa dari apa yang aku alami saat ini aku memiliki beberapa kesimpulan menarik. Mungkin saja apa yang dilakukan orang tua ku karena bisa saja karena faktor anak yang banyak. Mungkin juga karena sewaktu lahir adikku sangat mirip dengan boneka. Atau bisa saja karena memang kondisi adikku yang rentan terhadap penyakit. Aku baru menyadari ketika aku lebih memperhatikan apa yang dilakukan orang tua ku.

Orang Tua Adalah Sosok Penyayang

Mereka adalah sosok penyayang hal itu terlihat ketika mereka menatapku dan rela menyiapkan segala hal yang dibutuhkan oleh ku. Hanya saja cara penyampain mereka terhadap ku berbeda dengan yang dilakukan ke adikku. Mungkin memberikan hadiah kepada adikku ketika adikku mendapat peringkat 10 adalah hal yang sengaja dilakukan agar adikku terus bersemangat dalam belajar. Dan mungkin juga karena aku jauh lebih besar disbanding adikku maka mereka mendidik ku agak sedikit keras agar aku tidak menjadi pribadi yang manja.

Memiliki tiga orang kakak dan satu orang adik sebenarnya sangat menyenangkan. Rumah terasa ramai jika sedang berkumpul. Hanya saja memang karna aku merasa adikk ku adalah seorang sainganku, aku pun seringkali jengkel padanya. Walau begitu jika sedang jauh darinya, aku merasakan rindu pada adikku.

Pengalaman Sebagai Anak Keempat

Menjadi anak keempat didalam keluarga ini sangat banyak pengalaman yang ku dapat. Aku bisa menikmati indahnya memiliki banyak saudara. Memiliki tiga orang kakak dan satu orang adik yang mungkin saja tidak semua orang memiliki kakak atau adik. Dan aku berjanji pada diriku sendiri jika aku menjadi seorang Ibu yang memiliki banyak anak, aku akan memperlakukan mereka sama adil. Aku tidak ingin mereka memiliki pikiran seperti diriku yang merasa bukan anak kandung di keluarga ku sendiri. Terima kasih Ibu dan Ayah yang telah mengajarkan begitu banyaknya arti pengalaman dan perjalanan hidup.

Demikianlah tulisan Aku, Adinda Si Anak Keempat yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Syifa Febriani. Trimakasih.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku, Adinda Si Anak Keempat"

Posting Komentar