Jurusan Kebidanan dari Mata Kuliah dan Peluang Kerja

Anak dan Kekerasan dalam Sudut Pandang Sosiologi


Faktaanak.com - Akhir-akhir ini sedang ramai diberitakan mengenai kekerasan yang dilakukan oleh siswa terhadap gurunya. Anak dan kekerasan seakan-akan tidak dapat dipisahkan,baik itu dari segi anak yang menjadi korban maupun anak sendiri yang menjadi pelaku. Kekerasan selalu mengancam masyarakat itu sendiri termasuk anak-anak.  Hal ini menyebabkan kekhawatiran baik dari orang tua si anak maupun lingkungan sekitar yang terkait. 


Kekerasan dalam Sudut Pandang Sosiologi

Berhubung saya merupakan mahasiswi sosiologi, maka saya akan memaparkan tentang anak dan kekerasan dari sudut pandang sosiologi itu sendiri. Telah banyak ilmu-ilmu sosial yang mengkaji mengenai kekerasan itu sendiri termasuk sosiologi. Dalam sudut pandang sosiologi, kekerasan berbeda dengan konflik. Pengertian konflik jika ditinjau dari segi sosiologis adalah suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (atau juga kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau menyingkirkan pihak lain ataupun membuatnya tidak berdaya (konflik tidak selalu berwujud dalam bentrokan fisik) sedangkan kekerasan jika ditinjau dari segi sosiologis merupakan perilaku pihak yang terlibat dalam konflik yang bisa melukai lawannya untuk memenangkan konflik tersebut (kekerasan berupa bentrokan fisik). Setiap orang tua mengharapkan agar anaknya dapat terhindar dari perilaku kekerasan. Berikut saya akan memaparkan mengenai anak dan kekerasan dalam sudut pandang sosiologi 

Kekerasan Merupakan Bentuk Penyimpangan Sosial

Penyimpangan merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi (James vander Zanden, 1979). Dapat dikatakan juga bahwa penyimpangan sosial merupakan perilaku yang menyimpang dari norma, nilai, maupun aturan yang berlaku. Terdapat banyak bentuk dari penyimpangan sosial diantaranya adalah kekerasan. Kekerasan telah menyimpang dari nilai dan norma agama, kesusilaan, dam juga norma hukum. Jika sudah terjadi sebuah tindakan penyimpangan sosial (termasuk kekerasan) maka dilakukan kegiatan pengendalian sosial.Pengendalian sosial ini dilakukan oleh pihak-pihak yang berwewenang misalnya kepolisian.  

Pelaku (orang dewasa) kekerasan dapat terhadap anak  dapat mendapat hukuman penjaran sedangkan untuk anak yang melakukan kekerasan dapat dilakukan pengendalian sosial berupa hukuman penjara (bagi yang sudah berusia diatas 17 tahun) oleh kepolisian, bisa juga pengendalian sosial dilakukan oleh sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat. 


Agen-agen Sosialisasi yang Berperan dalam Menghindarkan Anak dari Perilaku Kekerasan

Pengertian sosialisasi menurut Peter L. Berger adalah proses melalui mana seseorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Bisa juga dikatakan bahwa sosialiasi adalah proses belajar seumur hidup yang dialami oleh seseorang dimana ia belajar memahami dan mempraktikkan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Di dalam proses sosialisasi, terdapat agen-agen sosialisasi yang berperan penting di dalamnya. Untuk menghindarkan anak dari perilaku kekerasan, maka ada beberapa agen sosialisasi yang sangat berperan diantaranya adalah 

1) Keluarga

Individu pada masa awal kehidupannya, lebih banyak mengalami sosialisasi di lingkungan keluarganya.Keluarga merupakan agen sosialisasi pertama yang ada bersama anak dari anak tersebut masih berada di dalam kandungan. Peran keluarga sebagai agen sosialisasi sangat penting. Di dalam keluarga terjadi proses penanaman nilai dan norma dasar yang berlaku di masyarakat maupun keluarga nya itupun sendiri. Penanaman nilai dan norma tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi kehidupan anaknya kelak. Melalui keluarga lah diajarkan bahwa kekerasan merupakan hal yang tercela (tidak baik) maka dari itu harus diajauhi. Melalui keluarga, juga diharapkan agar terjadinya interaksi-interaksi yang baik antar anak dan orang tua agar tidak terjadi kekerasan. 


2) Teman Bermain

Dengan bertambahnya umur, teman bermain (kelompok bergaul) mulai dikenal dan dimasuki oleh anak dan peran keluarga sedikit demi sedikit mulai berkurang. Diantara semua agen sosialisasi, kelompok bergaullah yang lebih banyak berperan dalam proses sosialisasi seorang individu. Di sini seorang anak belajar berbagai kemampuan baru. Di dalam kelompok bergaul, anak mulai mempelajari nilai kesetiakawanan, kerukunan, keadilan, solidaritas, dimana nilai-nilai tersebut bermanfaat agar anak dapat menjauhi tindak kekerasan.

3) Sekolah

Setelah keluarga dan teman bermain, terdapat sekolah yang merupakan agen sosialisasi yang tak kalah pentingnya. Di sekolah, anak diajarkan mengenai ilmu pengetahuan, nilai/norma, maupun keterampilan yang bermanfaat bagi kehiduapn anak. Pendidikan formal mempersiapkan anak untuk penguasaan peran-peran baru di kemudian hari, di kala seseorang tidak tergantung lagi pada orang tuanya. Di sekolah (melalui mata pelajaran) diajarkan bahwa kekerasan merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang yang berpendidikan (anak dihimbau untuk menjauhi kekerasan). Di sekolah juga diajarkan mengenai hidup rukun antar sesama warga sekolah agar tidak terjadi tindak kekerasan. 

4) Media Massa

Di era milenial ini, media massa memiliki peran yang signifikan dalam tumbuh kembang anak. Sekarang, anak dengan mudah dapat mengakses media massa baik itu cetak maupun elektronik. Terlebih saat anak mulai memainkan gadget, anak dengan mudah mengakses berbagai konten-konten yang positif bahkan sampai yang negatif. Salah satu konten yang bisa saja diakses oleh anak adalah konten mengenai kekerasan. Anak dapat melihat perilaku kekerasan dari berbagai media sosial diantaranya adalah youtube, instagram, facebook, dan lainnya.Selain itu, anak juga bisa melihat kekerasan dari game yang dimainkannya. 

Terdapat salah satu media lagi yang tidak jarang menampilkan tindak kekerasan, media tersebut adalah televisi. Anak dapat menonton adegan-adegan kekerasan yang tidak pantas ditayangkan di televisi. Maka diharapkan agar orang tua mendampingi anak saat anak bermain gadget agar konten-konten negatif tersebut tidak sampai diaplikasikan oleh anak. Selain itu pemerintah juga seharusnya selektif dalam memilih program yang layak ditampilkan untuk anak.

Menjauhkan Tindakan Kekerasan dari Anak Perlu Kerjasama Berbagai Aspek

Pada intinya, untuk menjauhkan anak dari tindak kekerasan, diperlukan kerjasama dari berbagai elemen baik itu keluarga anak tersebut, institusi sekolah, masyarakat umum dan juga pemerintah. Saya berharap agar tidak ada lagi kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak. Aamiin yarabbal’alamin….

Demikianlah tulisan Anak dan Kekerasan dalam Sudut Pandang Sosiologi yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Asti Puspitasari Putri. Trimakasih.

6 Komentar untuk "Anak dan Kekerasan dalam Sudut Pandang Sosiologi"

  1. Bermanfaat ya artikelnya jadi lebih tahu tentang sosiologi,thanks

    BalasHapus
  2. Bermanfaat ya artikelnya jadi lebih tahu tentang sosiologi,thanks

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Lengkap banget kajian sosiologinyaa sukaa!! Soalnya aku suka baca tentang sosiologiii

    BalasHapus
  5. Wah perspektif sosiologi terhadap anak dan kekerasan benar2 menambah wawasan kita untuk tidak menyepelekan kekerasan trhdp anak. Tulisan yg bagus..

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel