Cerita Tentang Anak Tertua


Faktaanak.com - Keluargaku adalah sebuah keluarga yang sederhana. Papaku bernama M. Saleh dan mamaku bernama Amna. Kami tinggal di sebuah daerah di kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan namanya daerah 8 ilir. Di sana daerah terbagi menjadi ilir dan ulu yang dipisahkan oleh sungai Musi.

Anak Perempuan Tertua

Orangtuaku mempunyai 6 anak, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Aku sendiri adalah anak nomor 2, tetapi anak perempuan tertua. Aku mempunyai 1 kakak laki-laki dan 4 adik, 2 laki-laki dan 2 perempuan. Umur kami hanya terpaut masing-masing 2 tahun. 

Mamaku seorang guru dan papaku seorang karyawan swasta. Mereka setiap hari berangkat dari rumah jam 7 dan tiba kembali di rumah sekitar jam 5 sore. Setiap harinya kami dijaga oleh seorang pembantu yang merupakan anak tetangga kami. Kami memanggilnya Ayuk (panggilan untuk kakak perempuan). Karena anak orangtuaku banyak maka Ayuk agak kerepotan. Dia tidak sanggup melakukan semua pekerjaan sendiri. 

Belajar Mengurus Rumah

Karena aku anak perempuan tertua, mamaku menugaskan aku untuk membantu pekerjaan Ayuk setelah pulang sekolah. Aku menyapu, mengepel, melap peralatan rumah tangga dan kaca atau membereskan mainan, sebisaku. Ketika Ayuk mencuci aku mengajak main adik-adikku, menggendong ketika mereka menangis atau menemani mereka tidur siang. Kami tidak diperbolehkan oleh orangtua kami main keluar rumah karena kondisi sekitar lingkungan rumah kami masih agak sepi, belum banyak penduduk. Aku mulai belajar mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adikku sejak aku berumur 6 tahun, saat aku kelas 1 Sekolah Dasar. Kami semua sangat mengerti dan menyadari bahwa orangtua kami mencari nafkah untuk kebutuhan hidup kami sekeluarga, jadi tidak pernah kami menuntut atau mengeluh.  

Lama kelamaan, aku sudah mahir mengerjakan pekerjaan rumah tangga bahkan aku sudah bisa menggosok pakaian, mencuci baju, mencuci piring dan memasak makanan yang sederhana, sekedar untuk cemilan adik-adikku. Untuk pekerjaan rumah dari gurupun, aku dan kakakku mengajari adik-adik kami. Namun jika ada hal yang kami tidak bisa, mama atau papa kami akan mengajari kami setelah pulang bekerja.

Terbiasa dengan Pekerjaan Rumah Tangga

Ketika Ayuk berhenti bekerja untuk menikah, kami tidak merasa kaget atau shock. Aku sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga. Aku dan kakakku memegang tanggungjawab terhadap adik-adik kami. Untungnya giliran sekolah kami adalah pagi dan siang jadi kami bisa bergantian menjaga mereka. Namun terkadang ada nenek yang datang menginap hanya untuk mengawasi kami. 

Setelah adik-adikku semakin besar, merekapun sudah dapat diajarkan mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu atau membereskan tempat tidur mereka sendiri. Karena hal itu sudah menjadi pekerjaan rutin kami, kami tidak merasa sulit atau kerepotan. Terkadang jika adik-adikku ada yang tidak mengerjakan tugasnya karena sakit atau punya banyak pekerjaan rumah dari sekolah maka aku sebagai anak tertua akan melakukannya.

Mengajarkan Kembali Ke Generasi Penerus

Saat ini sebagian dari kami sudah menikah dan mempunyai anak. Kami pun menerapkan hal-hal seperti yang orang tua kami lakukan terhadap kami. Ternyata pengalamanku ketika masih kecil tersebut sangat-sangat berguna. Aku tidak bergantung pada pembantu sepenuhnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena sudah terbiasa mengerjakannya sendiri. Apalagi di zaman sekarang sudah banyak peralatan mutakhir yang sangat membantu pekerjaan rumah tangga seperti vacum cleaner, mesin cuci, kompor gas, dispenser dsb. Anak-anakku pun sekarang sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga. Pembiasaan dari kecil yang diterapkan oleh orangtua kepada anaknya akan menjadi modal anak untuk menjalani kehidupan mereka selanjutnya.

Demikianlah tulisan Cerita Tentang Anak Tertua yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Nurhidayati Saleh. Trimakasih.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerita Tentang Anak Tertua"

Posting Komentar