Fakta Anak Bontot, Bukan Anak Biasa


Faktaanak.com - Menjadi seorang anak bukan merupakan pilihan, ini hal yang dilalui oleh sebagian besar orang di dunia ini walaupun tidak sedikit bayi yang direnggut hak nya untuk hidup. Sangat miris mengetahui banyaknya bayi-bayi yang digugurkan, dibuang dan dibunuh dikarenakan keegoisan diri orang tua nya. Untung nya saya disini bukan salah satu korban tersebut, saya seseorang yang berhasil mengalahkan jutaan saudara saya ketika masih menjadi sel. Dan akhirnya saya berhasil mendapatkan cinta kedua orang tua saya.

Anak Terakhir dan Kesayangan

Saya terlahir menjadi anak ketiga sekaligus anak terakhir. Usia yang terpaut jauh dengan saudara dan saudari saya membuat saya mendapatkan kasih sayang yang melimpah (oke jujur, saya anak kesayangan :D). Ini membuat saya selalu diperlakukan bak anak kecil terus menerus. Oke umur saya sudah 21 tahun, taken dan sedang berkuliah. So? What’s the matter? Saya berkuliah jauh dari orangtua saya. Awalnya tidak ada masalah meskipun ibu saya sedikit berat ketika saya memutuskan kuliah keluar, keluar dari tempurung mereka. 

Ketakutan Orang Tua Adalah Rasa Sayang

Ibu takut saya akan kesusahan di tanah rantau, bagaimana saya makan, bagaimana jika saya sakit, banyak hal lainnya. Tapi hal itu tidak menjadi masalah yang besar dikarenakan dua tahun pertama kuliah sudah saya lalui dengan baik. Masalah besar muncul ketika saya akhirnya memiliki pacar di tanah rantau, pikiran orang tua sudah kemana mana ditambah banyaknya kabar mengenai kehidupan anak kos sangat tidak tercermin. Yah begitulah, sampai ibu saya menanyakan, “Apa sebaiknya ibu pindah saja kesini?”. Itu menjadi pertanyaan yang tidak perlu saya jawab, karena tidak seharusnya hal itu terjadi. Banyak hal yang ditakutkan keluarga saya ketika anak perempuan pergi merantau.

Anak Ketiga Serasa Anak Pertama

Saya anak paling kecil, saya memiliki seorang kakak laki-laki dan perempuan. Mereka sudah menemukan pendamping masing-masing. Umur yang terpaut jauh membuat saya merasakan saya lebih cepat dewasa dibandingkan anak seusia saya. Masa anak-anak saya jarang saya habiskan dengan kakak-kakak saya. Mereka sibuk dengan permainan mereka masing-masing, itu membuat kami tidak begitu akrab. Sebagai anak nomor 3, saya merasa anak nomor 1 karena barang-barang yang saya dapatkan juga barang-barang baru, bukan bekas pakai kakak saya. Sebagai anak paling kecil, saya merupakan penjaga orang tua saya ketika saudara yang lain pergi membangun keluarga baru nya. Saya takut mereka akan bagaimana apabila saya sudah menikah.


Anak Bontot

Saya menjadi anak yang bisa dibilang memiliki waktu paling sedikit dengan orang tua. Paling merasa menyedihkan ketika mereka pergi. Saya tau setiap anak ntah itu anak tertua atau terkecil pasti memiliki hal yang baik atau tidaknya. Yang paling penting, setiap anak harus membahagiakan orangtuanya. Itu yang terpenting untuk saya, anak bontot.

Demikianlah tulisan Anak Bontot, Bukan Anak Biasa yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Messy. Trimakasih.

*anak bontot = anak bungsu

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Fakta Anak Bontot, Bukan Anak Biasa"

Posting Komentar