Impian Ku Tak Sejalan dengan Ibuku


Faktaanak.com - Namaku Fafa, kini aku sedang mengenyam pendidikan di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Saat ini aku sedang memikirkan sebuah kisah yang pernah aku lalui setahun yang lalu. Kala itu aku sedang berada pada tingkat SMA, tingkat yang katanya adalah masa yang paling berkesan sepanjang hidup seorang manusia. Yaa memang sedikit berkesan bahkan bagiku tidak akan pernah ku lupakan. 

Masa Pergolakan Batinku dengan Ibu

Karena pada masa ini terjadi pergolakan batin dan pikiran antar aku dengan Ibuku. Disaat semua anak SMA sangat antusias ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negri diriku justru sedang merencanakan sebuah CV untuk melamar pekerjaan. Bukan keinginan ku memang, hal ini lantaran desakan orang tua dan keluarga ku yang memaksa diriku untuk segera bekerja setelah lulus SMA. Aku sangat berharap bisa mengenyam pendidikan di sebuah universitas ber almamater kuning. Namun karena keadaan keluarga ku yang sangat sederhana aku harus menghilangkan impian ku itu.

Hingga pada suatu hari entah mengapa perasaan ragu menyelimuti ketika ingin melamar sebuah pekerjaan menjadi seorang receptionist. Berkali – kali aku tidak diterima di berbagai perusahaan. Sampai Ibuku menyerah dan hanya bisa pasrah saja. Namun, entah apa yang dia minta ketika berdoa aku pun masuk kedalam kuota 50% peserta yang berhak mendaftar SNMPTN. Tetapi aku tidak bisa mendaftar jurusan yang aku inginkan sebab aku mendaftar ke perguruan tinggi pun tanpa sepengetahuan kedua orang tua ku. Aku hanya meminta kepada Ibuku untuk di doakan agar kelak aku menjadi orang yang sukses.

Pengumuman Lulus Seleksi Universitas

Pengumuman SNMPTN pun tiba, Alhamdulillah aku diterima disalah satu universitas terbaikdi Indonesia dengan jurusan yang semoga saja sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tetapi, bencana itu pun datang. Ibuku sangat menentang keputusan ku yang ingin kuliah. Beberapa hal menjadi bentuk keraguan Ibuku. Pertama, Ibuku tidak mengizinkan diriku ber kuliah karena lokasi kampus yang lumayan jauh dan mengharuskan aku tinggal jauh dari keluargaku. Kedua, apalagi kalau bukan soal biaya pendidikan ? Ibuku memang tidak memiliki banyak uang untuk biaya pendidikanku.

Harapan untuk Memutus Rantai Kemiskinan

Aku berusaha menjelaskan perihal beasiswa Bidikmisi kepada Ibuku, namun tetap saja Ibuku tidak yakin sama sekali. Aku pun beralih menjelaskan kepada Ayah ku dan beliau hanya diam menatapku. Aku paham apa yang mereka rasakan, tapi keinginan ku untuk tetap kuliah sangat kuat. Aku kuliah pun ingin memutus rantai kemiskinan di dalam keluarga ku. Penjelasan demi penjelasan ku berikan setiap hari hingga aku terpaksa harus meneteskan banyak air mata setiap memikirkan apakah aku bisa berkuliah atau tidak. Namun, siapa sangka keajaiban itu datang. Guru BK bahkan sempat marah padaku karena tidak mau mengambil SNMPTN, takut sekolah di black list katanya. Entah kenapa tiba-tiba orang tua dan keluarga ku setuju aku berkuliah. Meskipun aku harus meminjam uang untuk membayar biaya pendidikan di semester pertama dan keperluan kuliah lainnya.

Berpisah dengan Orang Tua

Kini aku pun sudah berada di sebuah asrama mahasiswa. Kebetulam kampus ku mewajibkan seluruh mahasiswa tingkat satu untuk tinggal di asrama. Aku dibantu Ibuku merapikan kamar asrama ku. Ingin sekali menangis melihat Ibuku saat ini. Memkikirkan akan berpisah dengan beliau amat sangatlah sedih. Hingga Ibuku berpamitan untuk pulang ke rumah aku menahan tangisku. Tetapi tangisku pecah begitu kembali ke kamar asrama. Kini aku seorang diri dan kini aku sadar bahwa kebersamaan dalam keluarga amat sangatlah berharga.

Selama lebih kurang selama satu bulan lamanya aku di asrama, aku tidak pernah mau menerima telepon dari orang tua ku terutama dari Ibuku. Tapi aku sadar ternyata tindakan ku salah. Harusnya aku lebih sering menelepon orang tua ku. Tapi aku terlalu takut menangis jika berbicara dengan Ibuku. Sampai akhirnya aku pulang ke rumah dan bertemu kembali dengan Ibuku. Betapa bahagia nya bisa bertemu kembali, bahkan gurat bahagia pun terlihat sekali dalam wajah Ibuku. Dia bahkan memperlakukan diriku seperti seorang putri raja ketika pulang ke rumah. Dia selalu melakukan yang terbaaik ketika aku dirumah. Bahkan dia rela ber susah payah demi membuatkan sebuah makanan untuk aku bawa ke asrama.

Belajar dari Pengalaman Bermakna

Ibu ku bahkan menyiapkan segala sesuatu keperluan ku ketika aku akan kembali ke asrama. Ibu ku bagaikan seorang yang sempurna yang akan melakukan segalanya untuk anak-anaknya. Dari beliau lah aku belajar berbagai makna kehidupan. Belajar mengatur dan mengesampingkan ego demi kebahagiaan anak-anak dan keluarga nya. Belajar mengatur waktu agar bisa melakukan semua kegiatan yang ada, belajar menjadi seseorang yang mandiri, penyayang, dan perhatian bahkan aku belajar mengikhlaskan segala sesuatu demi orang-orang terkasih. Bukan hanya Ibuku yang memberikan pengalaman bermakna bagiku tetapi Ayahku juga memberikan sebuah pengalaman hidup yang luar biasa. Dari Ayahku aku belajar arti tanggung jawab. Belajar mencari peluang untuk tetap bertahan hidup, belajar menjadi orang yang tegar dikala sebuah kesedihan berada didepan mata.

Cara Orang Tuaku Mendidik Anaknya

Memang pemikiran kedua orang tua masih seperti pemikiran orang pada zaman dahulu. Pemikiran keduanya mungkin tidak se modern orang-orang masa kini. Cara mendidik mereka pun sangatlah kolot. Bahkan sering kali aku merasa bukanlah anak kandung dari mereka. Mereka sangat keras mendidik anak-anaknya. Mereka lebih mengedepankan ilmu agama untuk dipelajari oleh anak-anaknya. Mereka juga jarang mengapresiasi atas keberhasilan anak-anaknya. Aku sering kali merasa kecewa, namun aku sadar bahwa mungkin ini cara mereka agar anak-anak mereka tidak merasa cepat puas terhadap keberhasilan yang dicapai. Mereka juga ingin anak-anak mereka lebih giat berusaha dan selalu berikhtiar dalam melakukan sesuatu. Atau mereka akan marah sekali jika anak-anak mereka tidak patuh terhadap keduanya. Pernah diriku merasakan nikmatnya gagang sapu di betisku. 

Ya memang itu adalah slah satu bentuk kekerasan. Tetapi bagiku itu adalah hal yang wajar karena sikap ku sangat tidak wajar terhadap mereka. Dan mungkin saja kesalahan ku sangat fatal waktu itu di mata mereka. Tetapi mereka berdua sangatlah luar biasa pengertian. Mereka akan melakukan apa saja untuk anak-anaknya. Mereka ingin anak-anak nya sukses. Mungkin semua orang tua pun mengharapkan seperti itu. Namun bagiku mereka berdua lah yang sangat berharga bagiku.

Belajar Ilmu Pengasuhan yang Sangat Berarti

Jika aku menjadi seorang Ibu nanti aku akan melakukan yang terbaik untuk keluarga ku nanti seperti yang dilakukan oleh Ibuku. Aku akan menerapkan beberapa ilmu pengasuhan yang diajarkan oleh Ibuku dan akan aku terapkan semua perilaku baik yang diajarkan orang tua ku. Terima kasih ku ucapkan kepada kedua orang tua ku atas apa yang telah kalian berikan padaku.


Demikianlah tulisan Impian Ku Tak Sejalan dengan Ibuku yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Syifa Febriani. Trimakasih.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Impian Ku Tak Sejalan dengan Ibuku"

Posting Komentar