Kisah tentang Sepuluh Ratus-ku

-anak-anak-
-anak-anak-

Faktaanak.com - Dunia yang selalu ingin di ulang dalam kehidupanku ialah dunia saat aku masih kecil, dimana aku merasa bahagia dapat memiliki kelucuan yang mungkin sudah tidak di miliki di jaman sekarang ini.

Keseruan Bersama Kakak

Hal yang paling aku ingat dimasa kecilku ialah kesuksesanku mengalahkan kakakku dalam menghafal nomor telefon rumah. Hal tersebut mungkin adalah hal yang biasa di jaman sekarang, tetapi saat itu, aku sebagai anak kedua merasa sangat bangga karena dapat mengalahkan kakakku yang telah sekolah di Taman Kanak-kanak.

Menghitung Uang Bersama Kakak

Selain menghafal nomor telfon aku memiliki cerita yang menarik dimasa kecilku, saat itu, aku tinggal bersama om dan tanteku yang rumahnya berada di samping rumahku (rumah kontrakan), bersama mereka aku sering diberikan uang receh dengan nominal seratus perak, banyak sekali. Saat aku sudah mengumpulkan uang tersebut aku menghitung uang tersebut bersama kakakku.

Perdebatan tentang Menghitung

Di kala aku menghitung aku marah kepada kakakku yang berkata “seribu” di hitungan ke sepuluh. Aku dengan semangat empat lima mengajari kakakku menghitung “seratus, dua ratus, .... sembilan ratus, sepuluh ratus.” Belum sempat aku lanjutkan, kakakku kembali mengingatkanku kalau sudah sembilan ratus ditambah seratus jadinya seribu. Aku marah, dan mengajak dia ke tanteku untuk menunjukkan cara menghitungku yang aku yakini lebih baik daripada kakakku. 

Keduanya Adalah Jawaban yang Benar

Yang menarik saat itu, aku tidak dikatakan salah atau benar, jawaban yang keluar adalah keduanya benar. Seingatku kata-kata yang digunakan tanteku seperti ini “nggak ada yang salah kok, sepuluh ratuskan berarti seribu juga. Jadi semuanya benar.” Aku sangat senang kala itu, karena aku merasa setara dengan kakakku yang telah bersekolah. 

Bersaing untuk Menjadi Lebih Baik

Aku menjadi anak yang senang dengan mata pelajaran matematika setelah itu, karena aku selalu ingin lebih baik daripada kakakku yang telah bersekolah, dan hasilnya aku lebih baik daripada kakakku, dalam beberapa hal. Salah satunya ialah dalam matematika, tetapi aku kalah dalam hal bahasa. Tentu saja, aku menyebutkan ‘seribu’ saja menjadi ‘sepuluh ratus’. Tetapi hal ini yang menggugah aku untuk terus belajar. Belajar dari pengalaman masa lalu untuk terus menjadi anak yang lebih baik dari pada yang lalu.

Demikianlah tulisan Kisah tentang Sepuluh Ratus-ku yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Balsamus Pieter Dwiwasa. Trimakasih.
-anak-anak-

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Kisah tentang Sepuluh Ratus-ku"