Memasuki Dunia Anak “Dunia Sandiwara Tanpa Rekayasa”


Faktaanak.com - Acap kali kita memandang dunia anak-anak terkesan simpel, ringan, membahagiakan, dan juga menyenangkan. Sehingga tak sedikit yang menganggap dunia mereka adalah dunia yang isinya cuma senang-senang tanpa adanya kesedihan. Kemudian pada akhirnya, kesalahan dalam memandang dunia anak tersebut berakibat pada cara memperlakukan mereka. Hal inilah yang kemudian memunculkan stigma pada anak-anak. Istilah nakal, sulit dikendalikan, tidak sopan, cengeng, licik, dan lain sebagainya akan melekat pada mereka. 


Memahami Dunia Anak

Sejatinya jika kita mau sedikit mencermati dan memasuki dunia anak, kita akan mengetahui bagaimana sejatinya dunia mereka. Selama ini, kita hanya memandang dari sudut pandang kita sendiri sebagai orang dewasa. Jika saja kita mau merenung saat mencoba belajar memasuki dunia anak, dunia anak adalah sekolah kehidupan bagi orang dewasa. Sementara anak-anak sendiri adalah guru bagi orang-orang dewasa.


Belajar dari Dunia Anak

Dunia anak memang tampak sederhana tetapi ternyata kitalah yang justru banyak belajar dan berguru pada mereka dan dunianya. Stigma yang sering kita lekatkan pada mereka adalah buah pikiran sebab kita hanya memandang dunia mereka dari tempat kita berpijak yakni dunia orang dewasa. Bukan sebagai pelaku atau pemeran yang memasuki dunia mereka. Dari merekalah seharusnya kita berusaha belajar memahami dunianya.

Sudut Pandang yang Berbeda

Ada sebuah contoh yang datang dari sebuah film India yang berjudul Taare Zameen Par, film tersebut menceritakan dunia anak yang ternyata luput dari pengamatan orang dewasa. Anak yang dianggap nakal dan tidak seperti anak pada umumnya serta terkesan sulit dikendalikan ternyata hanyalah seorang anak yang memiliki kelebihan tersendiri tetapi orang dewasa dalam film tersebut tidak mengerti bagaimana cara menghadapinya. Mereka hanya mengira anaknya sulit diatur dan bertingkah semaunya sehingga menjadikan dirinya dianggap nakal oleh orang tuanya sendiri.

Sandiwara yang Nyata

Konflik terus dimunculkan dalam film tersebut, contohnya seperti anak tersebut oleh gurunya di sekolah dilaporkan ke kepala sekolah karena dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran di kelasnya sehingga kepala sekolahnya melaporkannya kepada orang tuanya guna untuk dikembalikan. Di rumah, orang tuanya menuntut anak tersebut agar menyamai saudaranya yang selalu menjadi juara dalam banyak hal. Padahal setiap anak memiliki kemampuan yang tentunya berbeda. Sederhananya orang dewasa juga seperti itu tetapi justru hal tersebut kerap lupa tak dipermasalahkan. 


Memahami Anak Adalah Kunci Utama

Setelah kejadian demi kejadian menimpanya, termasuk setelah dipindahkan di sekolahnya yang baru, anak tersebut terus dianggap sebagai biangnya masalah. Sampailah seorang guru seni di sekolah baru anak tersebut, yang mungkin dalam film tersebut bertujuan menyadarkan kepada penonton bahwasanya terlambat sedikit saja anak tersebut akan kehilangan dunianya yang anak-anak dan mematahkan semangat hidupnya. Gurunya menemukan bakat tersembunyi pada anak tersebut. Film tersebut sebenarnya mengajarkan kepada orang dewasa bahwa dunia anak perlu diselami bukan hanya dipandang lalu dimasuki dengan menggunakan sudut pandang orang dewasa.

Contoh nyata lagi seperti yang pernah saya alami sendiri. Ketika suatu pagi murid saya mengajaknya memasuki dunianya. Ia mengajak saya untuk melihat hamparan langit yang disana terdapat awan yang bergerak seolah di mata mereka awan sedang berjalan. Maksud hati ingin sekali menjelaskan kepadanya bahwa langit sesungguhnya sedang tidak berjalan sebab tak memiliki kaki layaknya kita manusia. Kemudian saya berusaha melanjutkan penjelasan ilmiah sederhana bahwa awan tersebut bergerak karena ditiup angin.  Tetapi justru jawaban dari mulutnya yang polos menanggapi penjelasan dari saya membuat saya terhenyak lantas sadar. Katanya, langit tersebut berjalan karena Allah yang meniup. Sungguh kaget bukan?

Awalnya, saya pikir, dunia mereka tak perlu dimasuki dengan sudut pandang dunia anak-anak atau sederhananya cukuplah bagi saya berperan menjadi orang dewasa yang mampu menghadapi anak dengan persoalannya. Tetapi saya justru keliru. Ia malah menyeret saya untuk menyadari bahwa dunia mereka harus dimainkan selayaknya dunia mereka tanpa perlu merekayasa banyak hal.

Dunia Sandiwara Tanpa Rekayasa

Dunia yang sejatinya sederhana tetapi rumit. Dunia sandiwara tanpa rekayasa. Dunia yang hanya perlu diselami dengan rasa sabar dan terus belajar. Sebab pada dunia anak-anak, kita hanyalah bersandiwara tanpa banyak direka-reka. Sederhana, tetapi justru kepada merekalah sejatinya kita para orang dewasa belajar banyak hal tentang dunianya.


Demikianlah tulisan Memasuki Dunia Anak “Dunia Sandiwara Tanpa Rekayasa” yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Vivi K Wardani. Trimakasih.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Memasuki Dunia Anak “Dunia Sandiwara Tanpa Rekayasa”"

Posting Komentar