Memutus Mata Rantai yang Keliru

-anak-anak-
-anak-anak-

Faktaanak.com - Pulang. Itu adalah kata yang sangat indah bagi anak perantauan yang tengah menimba ilmu di rantau orang. Kerinduan yang bertumpuk-tumpuk kepada orang tua sudah pasti. Bercengkrama dan bercanda dengan orangtua adalah kenangan manis yang mungkin tak terlupakan dalam memori, tetapi tidak denganku. Aku tidak merasakan itu kecuali dengan ibu.


Cerita tentang Ayahku

Ayahku bersifat angin-anginan. Terkadang sangat baik, ataupun sebaliknya. Dulu waktu aku kecil, saat ayah dan ibu bertengkar, piring-piring beterbangan di lempar ayah dan mendarat di lantai berkeping-keping. Semua barang-barang yang ada di dapur berserakan di mana-mana. Air yang ada di teko tumpah ruah isinya menggenangi sebagian lantai. Aku terisak menahan tangis di sudut kamar, yang ada dalam benakku saat itu hanyalah rasa takut yang berjejalan. Aku tidak mampu bersuara. 

Hanya Diam yang Bisa Kulakukan

Ingin rasanya aku meneriakkan kemarahanku kepada mereka. “Sudaah..berhenti..berhenti..aku tidak sanggup melihat kalian bertengkar seperti ini” batinku. Suara teriakan ayah dan ibu saling bersahut-sahutan. Aku tak tahan lagi. Kututup telinga dengan kedua belah tanganku kuat-kuat. Ya, sangat kuat. Aku tidak ingin suara itu merambat ke telingaku lagi. Tapi nihil. Sekuat apapun aku menutup telinga. Tetap saja suara itu merambat penuh paksaan ke telingaku.


Seperti tak Mempunyai Ujung

Kutulis kenangan ini dengan deraian air mata yang menyanyat kalbu. Sudah tidak terhitung lagi pertengkaran demi pertengkaran antara ayah dan ibu berlangsung sejak aku kecil hingga aku dewasa. Hanya ada satu perbedaannya hingga kini. Ibu sekarang lebih banyak mengalah. Saat ayah memulai cekcok ibu lebih banyak berdiam diri dan menangis diam-diam dengan mata merah. Aku benci melihat ibu menangis. 


Hanya karena satu saja permasalahan kecil, menjadi sebesar gunung. Itulah yang biasanya terjadi di rumahku. Jika salah satu anggota keluarga melakukan kesalahan, baik itu aku, kakakku, atau ibuku, semua akan kena marah ayah. Aku sangat bingung menyikapi sikap orang tua yang seperti ini. 

Ayahku punya kebiasaan merokok sejak aku kecil. Aku sering batuk jika tidak sengaja terhirup asap rokok ayah. Saat kelas 3 SD, aku memberanikan diri menyampaikan nasehat secara santun kepada ayah agar berhenti merokok. Tapi dengan keras kepada ayah menolak. 

Ayahku masih saja pemarah, bahkan sampai saat ini. Tapi ada perkembangan kecil dari ayah, dulu ayah sering main pukul jika kami melakukan kesalahan. Sekarang lebih banyak diam seribu bahasa atau memarahi kami habis-habisan sampai-sampai perkataan ayahku menjatuhkan harga diri kami. Bayangkan. Orang tua mana yang tidak menjadikan dirinya layaknya orang tua yang welcome yang seharusnya menyayangi, melindungi, dan mengayomi kami. Makanya kakak-kakakku sering kabur dari rumah karena sikap keras ayahku yang menurutku terlalu berlebihan. Mulai dari kakak pertama dan kedua sudah tidak dapat di hitung dengan jari berapali kabur dari rumah, sedangkan kakak ketigaku masih bisa di hitung. 

Pengalaman Kabur dari Rumah

Aku tidak pernah kabur dari rumah, bukan karena aku tahan dengan suasana rumah, hanya saja aku bingung hendak pergi kemana. Aku hanya sekali di pukul ayah, dan itupun masih sangat belia sekali, hanya karena membuat keributan dengan kakak ketigaku saat ada tamu bertandang. Mungkin karena rasa malu yang di tahan terhadap tamu, saat tamu itu pulang, ayah langsung mendatangi kami. Memukul kami secara bergantian, di lengan kami dan kepala belakang kami. Hal ini tidak akan pernah terlupakan olehku. 

Aku sangat marah kepada ayah, mengapa ia memukul pada kepalaku yang amat berharga ini, di dalam kepalaku ada otak ayah! Otak untuk aku berpikir. Ingin rasanya aku berteriak kepadanya. Saking berlebihannya bahkan mungkin tidak bisa di bayangkan. Hanya aku yang bisa mengingat itu semua bagai memori berjalan. Aku ingin membuang memori buruk itu sebenarnya. Tapi tidak bisa. Ayah dan ibuku sendiri yang menanamkannya sejak aku kecil.


Mendapatkan Kedamaian dengan Merantau

Sekarang aku tinggal di Banjarmasin dan menempuh kehidupan perkuliahan. Bau asap rokok yang membuatku batuk tidak ada lagi. Wajah muram dan cacian kasar tidak pernah kudengar lagi jika aku melakukan kesalahan kecil. Umpatan kecil nan menusuk yang dilayangkan kepada ibu melalu telingaku tidak terdengar lagi. Sekarang aku lebih sehat dan damai dari sebelumnya. 


Pulang ke Kampung Halaman

Kini tibalah musim pulang kampung, bagi anak kuliah yang telah menyelesaikan ujian. Wajah mereka berseri-seri membayangkan perjalanan menuju kampung halamannya, membayangkan bertemu orang tuanya, dan membayangkan nikmatnya masakan ibunya. Aku terkadang iri dengan teman-temanku yang memiliki keluarga yang harmonis. 


Tetap Belum Ada Perubahan

Aku membayangkan suasana rumah saja rasanya perlu beberapa menit untuk memasang wajah bahagia. Ya, berpura-pura bahagia di hadapan teman-temanku. Setelah aku pulang ke rumah, aku tidak kerasan di rumah. Bahkan pulang ke Banjarmasin tempatku kuliah pun bisa lebih cepat 1 bulan atau mungkin lebih.Sebenarnya aku ingin berlama-lama di rumah, tetapi sikap ayah belum ada perubahan yang mendamaikan. 

Aku pernah menyesal terlahir dalam keluarga yang seperti kuceritakan tadi. Ya, sangat menyesal. Bahkan aku sering bertanya-tanya, “kenapa ibu mau menikah dengan ayah?” tanyaku suatu ketika. “Kalau ibu tidak menikah dengan ayahmu, mungkin tidak ada kakak-kakakmu, termasuk kamu. Akupun juga tidak tahu mengapa ayahmu sedemikian pemarah, karena saat pertama ibu mengenal ayahmu, sikapnya tidak seperti itu..” jawab ibu dengan mata sembab.

Memahami dan Mulai Mempelajari Keadaan

Sekarang aku mulai memahami sedikit demi sedikit kehidupan berumah tangga. Tidak ada yang selalu berjalan mulus. Pasti ada saja badai menyerang. Aku mulai bisa menerima keadaan ini, aku yakin Allah tidak akan memberi cobaan melebihi batas kesanggupan. Kupegang erat itu. Berarti jika aku terlahir dalam keluarga yang seperti ini. Berarti Allah tahu, bahwa aku sanggup menjalaninya.

Memutus Mata Rantai yang Keliru

Tugasku sebagai seorang anak yang akan berproses menjadi pribadi mulia adalah memutus rantai pola asuh orang tua yang keliru dari orangtua terdahulu. Kelak jika aku sudah membangun rumah tangga, aku akan menyanyangi dan melindungi anak-anakku dengan segenap jiwa bersama suamiku, berusaha mendengarkan suara hatinya, bahkan yang paling terdalam. Tidak akan bertindak kasar kepada anak-anakku. Aku akan selalu memotivasi mereka ke arah kebaikan. Memperhatikan tumbuh kembang mereka bersama suamiku. Dan karena aku sejak kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuaku. 

Maka kelak aku ingin memberikan ilmu kasih sayang yang diberikan orang tuaku dulu kepadaku yang amat minim ini kepada suamiku kelak dan akan kutambah lagi dengan berusaha semampuku memahami dirinya.


Demikianlah tulisan Memutus Mata Rantai yang Keliru yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Dana Isnina. Trimakasih.
-anak-anak-

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Memutus Mata Rantai yang Keliru"

  1. Bagus dana artikelnya, mudah2 an bisa memberikan manfaatnya yang banyak

    BalasHapus