Jurusan Kebidanan dari Mata Kuliah dan Peluang Kerja

Mendidik Anak Dengan Tegas, Salahkah?


Faktaanak.com - Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa anak adalah investasi bangsa, kemajuan sebuah negara di masa yang akan datang ditentukan oleh kualitas anak pada masa ini. Begitu pentingnya peran seorang anak dalam menentukan nasib sebuah negara di masa yang akan datang. Oleh karena nya memberikan pendidikan kepada seorang anak dirasa menjadi factor vital pada saat ini, bayangkan jika anak tidak di didik secara benar dan tepat, apa yang akan terjadi pada negara di masa yang akan datang?


Didikan Orang Tua yang Tegas

Di era tahun 2000-an lalu disaat saya masih menempuh pendidikan sekolah dasar orang tua saya mendidik saya dengan tegas. Saya sangat paham mengapa ayah saya mendidik saya seperti itu. Karena pada dasarnya semua orang tua menginginkan anak nya untuk menjadi orang besar dan sukses di masa mendatang. Tidak ada seorang pun orang tua yang menginginkan anaknya untuk menjadi anak yang bodoh dan pemalas. Penerapan sikap disiplin secara tegas yang dilakukan oleh orang tua terhadap saya. Saya rasa tepat dan bermanfaat bagi saya saat ini. Saya menjadi mengerti betapa pentingnya menghormati yang lebih orang tua, menghargai waktu, menghargai sebuah uang yang dihasilkan melalui sebuah jerih payah.

Tegas Merupakan Bentuk Rasa Cinta

Saya ingat betul semasa saya menempuh pendidikan sekolah dasar, saya sering bangun kesiangan karena malam nya saya sering menghabiskan waktu bermain game tanpa sepengetahuan orang tua. Dan bisa ditebak apa yang dilakukan oleh ayah saya saat itu ia mengambil sebuah gayung yang berisi air dan “menyipratkan” air tersebut ke muka saya hingga saya pun terbangun dan tersadar bahwa saya kesiangan dan terlambat berangkat ke sekolah. Begitu pun ketika saya melakukan sebuah kesalahan maka orang tua saya tidak segan-segan memberikan saya hukum tegas. Semua yang dilakukan oleh kedua orang tua saya sesungguhnya adalah ungkapan rasa cinta orang tua kepada anaknya yang tidak menginginkan anaknya menjadi seorang yang pemalas dan bodoh.

Penurunan Tingkat Kedisiplinan dan Menghormati

Berbeda dengan anak “zaman old”, saat ini anak “zaman now” saya rasa memiliki penurunan tingkat sikap kedisiplinan dan sikap menghormati orang yang lebih tua. Jika anak pada zaman dahulu bila melakukan kesalahan di sekolah dan mendapatkan hukuman oleh sang guru maka anak tersebut akan mematuhi hukuman yang diberikan. Tetapi anak masa kini jika melakukan kesalahan di sekolah dan mendapatkan hukuman dari sang guru maka anak tersebut akan menyerang balik guru atau mengadu kepada orang tuanya dan melaporkan gurunya ke polisi.

Degradasi Mental Anak Bangsa

Menurut saya, ini merupakan sebuah degradasi mental anak bangsa, kemajuan teknologi dan pengaruh globalisasi saat ini rasa-rasanya menjadi faktor utama penurunan mental anak bangsa, mereka menjadi anak yang pemalas, tidak menghormati orang tua, dan jauh dari kata kedisiplinan. Berikut saya sajikan beberapa contoh kasus seorang murid yang melaporkan gurunya sendiri hanya karena permasalahan sepele. 


1. Guru Dilaporkan ke Polisi hanya Karena Mencubit Murid Saat Ketahuan Main HP

Dilansir dari daring berita online kompas.com Guru SMAN 3 wajo Sulawesi selatan bernama Malayanti  dilaporkan ke polisi hanya karena dianggap telah mencubit muridnya pada 6 november 2017. Peristiwa ini terjadi saat malayanti memberikan materi dalam kelas kewirausahaan ia melihat seorang murid memainkan handphone nya. Malayanti mengingatkan murid yang memainkan ponselnya dengan mencubit lengannya. Sang murid tidak terima dan melaporkannya ke polres wajo.


2.  Cubit Murid Berinisial KN Guru SD di Jakarta Dilaporkan ke Polisi

Seorang guru SD Antonius matraman Jakarta bernama Inho Loe dilaporkan oleh orang tua siswa ke polisi karena mencubit muridnya berinisial KN saat mengajar, kejadian tersebut berawal saat Inho mengajar lalu muridnya ribut. Termasuk si murid berinisial KN itu si guru menegur agar KN menghadap ke depan namun tegurannya tidak didengarkan Inho kemudian menghampiri KN dan mencubit tangannya.

3. Dihukum Bersihkan Toilet Guru SD Dilaporkan ke Polisi

Di Riau, kabupaten rokan hulu seorang guru dilaporkan ke polisi hanya Karena orang tua murid mendapatkan pengaduan dari anaknya dan tidak terima anaknya dihukum membersihkan toilet. Hukuman membersihkan toilet kepada murid berinisial DO diberikan sebagai tindakan disiplin dari sang guru karena si murid tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR).

Ini sudah sangat memprihatinkan karena sesungguhnya seorang guru adalah orang kedua kita yang harus kita hormati layaknya orang tua kita di rumah, bukan malah melaporkan nya ke pihak yang berwajib hanya karena permasalahan terkait kedisiplinan. Menurut hemat saya rasanya sangat diperlukan mengubah metode pendidikan kembali masa dahulu yang lebih tegas lagi kepada anak agar kelak anak menjadi generasi yang bermental baja dan memiliki sifat yang terpuji.

Demikianlah tulisan Mendidik Anak Dengan Tegas yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Putra Septiana. Trimakasih.

7 Komentar untuk "Mendidik Anak Dengan Tegas, Salahkah?"

  1. Terima kasih telah memposting artikel saya 🙏

    BalasHapus
  2. Artikelnya cukup menarik, saya ingin tau pandangan penulis mengenai perbedaan didikan keras dengan didikan tegas?karena banyak diantara orang tua yang menyamakan antara tegas dan keras..

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas komentarnya. Baik saya akan jawab pertanyaan saudara. Menurut pandangan saya didikan keras dengan didikan tegas sangat berbeda konotasinya. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena didikan tegas adalah sebuah didikan yang menerapkan sistem reward and punishment. Jika anak tersebut melakukan sebuah perbuatan baik maka anak itu layak di beri reward (hadiah). Namun sebaliknya jika anak itu tidak bisa berbuat baik maka ia wajib menanggung punishment (hukuman) tentunya dengan hukuman yang mendidik. Berbeda dengan didikan keras yang hanya condong pada penerapan sistem punishment semata dan tanpa adanya reward terhadap anak.

    BalasHapus
  4. Kumplit semua pembahasan nya, mantap!

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel