Permainan yang Mudah dan Bermanfaat, Yuk Lestarikan!


Faktaanak.com - Saya adalah anak tahun ’90-an, tepatnya 1999. Masa kecil adalah masa yang sungguh sangat menyenangkan dengan kehidupan yang bebas dari tekanan batin dan pikiran tentang hal-hal lain yang orang dewasa pikirkan. Permainan tradisional yang sangat menyenangkan sekaligus menyehatkan pernah saya lalui. Saya lahir di tanah Jawa, Solo tepatnya. 

Permainan Tradisional

Permainan tradisional yang sering saya mainkan saat kecil meliputi engklek, gobak sodor, petak umpet, rambatan, pasaran, dan gamparan. Saya tidak tahu bagaimana cara menyebutkannya dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, atau bahkan apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan terdengar aneh.


Di era yang lebih modern saat ini, cukup dapat dibanggakan karena masih ada anak-anak kecil yang bermain permainan tradisional ini. Permainan yang paling sering dimainkan adalah engklek, petak umpet dan pasaran. Permainan tradisional lainnya mungkin cukup asing bagi mereka. Oleh karenanya, sebagai generasi yang pernah mempermainkannya diharapkan dapat mengajak generasi now untuk melestarikannya.


Permainan Engklek

Permainan engklek, dalam bahasa Indonesia ada yang menyebutnya dengan ‘gunungan’. Permainan yang sangat simple dan menyenangkan. Peralatan yang dibutuhkan hanyalah kapur papan dan gacuk (mungkin bisa disebut dengan pion), gacuk dapat berupa pecahan genting, batu, sepatu, atau sandal. Permainan hanya dapat dimainkan maksimal 4 atau 5 orang saja. Permainan dimulai dengan menggambar arena dan menentukan siapa pemain pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya dengan hompimpah atau sompyong. Berikut gambaran arena permainan engklek.


Pemain pertama wajib melemparkan gacuknya, setelah mengetahui dimana letak gacuk tersebut, pemain dengan melompat satu kaki menuju ke gunung (nomor 9) dengan tanpa menapaki nomor dimana gacuknya berada (misalkan nomor 7). Berarti pemain mulai melompat satu kaki di nomor 1, 2 dan 3, di nomor 4 dan 5 kaki menapak bersamaan, lompat satu kaki lagi di nomor 6, 8 dan berhenti di nomor 9. Pemain berbalik arah, lompat satu kaki di nomor 8, mengambil gacuk yang berada di nomor 7, lompat ke nomor 6 dan seterusnya sama dengan pada awalnya. Cara bermain itu diterapkan oleh pemain lainnya. Pemain yang tidak mampu menahan saat lompat satu kaki, maka dinyatakan pemain tersebut kalah. Permainan engklek biasa dimainkan oleh anak-anak pada sore hari sekitar pukul 16.00 sore hingga menjelang magrib atau pada saat istirahat sekolah.

Permainan Gobak Sodor

Selain permainan engklek, permainan gobak sodor  pasti tidak asing di telinga anak tahun ’90-an. Permainan yang sangat sederhana, penuh tawa dan sangat menyenangkan. Tidak membutuhkan gacuk ataupun arena, karena arena tidak perlu digambar, tetapi hanya dibayang-bayang saja mampu. Penggambaran arena permainan ini kurang lebih sebagai berikut.

Gobak sodor dapat dimainkan oleh 6-8 orang, dengan arena dan komposi pemain yang adil antara regu jaga dan regu pelawan. Cara bermainnya sangat mudah, regu jaga bertugas menghalang-halangi regu pelawan yang berusaha melewati mereka untuk kembali lagi ke garis start. Salah seorang anggota regu pelawan yang berhasil tersentuh oleh salah seorang regu jaga maka dinyatakan mati sehingga tidak boleh melanjutkan permainan, dengan kata lain anggota regu pelawan berkurang. 

Berkurangnya anggota regu pelawan tidak menyebabkan mereka mati atau kalah secara keseluruhan, tetapi menambah kemungkinan regu jaga untuk segera menang dengan semakin berkurangnya anggota regu pelawan. Apabila regu pelawan telah habis, maka terjadi shuffle atau pergantian. Hal yang sangat menyenangkan dari permainan ini adalah canda-tawa dan teriakan “awas! Awas!” dari penonton dan pemain regu lawan, sedangkan pemain regu jaga biasanya sering meneriaki dengan kata “e a e, e a e, hayooo, eaaa! Eaaa!! Hyaaa!”. Kebahagiaan yang tidak dapat diceritakan dengan kata-kata setiap saya mengingat asyiknya permainan ini. Pada masa kecil saya, biasanya bersama kawan-kawan memainkannya saat sabtu malam ataupun malam yang di hari esoknya tidak sekolah. 

Permainan Petak Umpet

Petak umpet dan pasaran mungkin bagi anak-anak sekarang masih sering dimainkan karena tidak cukup asing bagi mereka. Tetapi bagaimana dengan gamparan? Apakah mereka mengenali permainan ini? 

Permainan Gambaran

Permainan gamparan lebih sering dimainkan oleh anak laki-laki daripada anak perempuan. Seperti arti dari gampar yaitu menampar. Permainan ini hanya bermodalkan pecahan genting dan sandal japit. Jumlah pemain 5-8 orang. Peraturan permainan ini sangat mudah, bagi anak yang kalah saat hompimpah/sompyong harus menjadi penjaga menara. Menara disusun dari pecahan genting sebanyak mungkin, tetapi biasanya sebanyak jumlah pemain. Bagi pelempar atau penghancur menara adalah bebas, sesuai kesepakatan para pemain. Saat pelempar sudah berhasil menghancurkan menara, maka seluruh pemain harus bersembunyi. 

Pada saat itulah penjaga menara bertugas untuk menyusun menara yang hancur menjadi menara utuh kembali. Ketika penjaga menara sudah berhasil menyusun menaranya kembali, maka dia harus mencari teman-temannya yang bersembunyi, apabila ada yang tertangkap oleh penjaga menara, dia dinyatakan mati. Pemain yang bersembunyi boleh menghancurkan kembali menara yang sudah kembali utuh, hal itu berarti sang penjaga menara harus kembali untuk menyusun ulang menara tadi. Permainan berlangsung terus seperti itu, memang menjadi penjaga menara harus extra sabar jika ingin menang. Skill yang dibutuhkan dalam permainan ini hanyalah bersembunyi, berlari, dan sabar. Cukup asyik bukan? Setelah bermain gamparan pasti anak-anak langsung mengeluh lapar karena energi yang terkuras banyak untuk bermain. 

Permainan Rambatan

Rambatan,yang berasal dari kata ‘rambat’ yang berati menempel. Ya, permainan ini adalah permainan temple-menempel. Temple-menempel yang dimaksud adalah menempel/berpegang pada suatu benda. Biasanya, benda yang tidak boleh ditempeli adalah yang berasal dari besi, sedangkan yang boleh seperti dinding, daun, batang pohon, serta temannya sendiri. Permainan ini bisa dimainkan oleh 4-6 orang. Dari sejumlah pemain tersebut, ditentukan satu pemain melalui hompimpah sebagai yang jaga ‘markas’. 

Permainan ini hampir mirip dengan petak umpet, pemain yang menang bersembunyi dan berusaha kembali ke markas. Sedangkan yang jaga, berusaha mencari lawan sekaligus menjaga markas. Bedanya, bagi pemain yang hampir tertangkap atau tersentuh penjaga markas, dapat selamat dengan menempel atau berpegang pada benda-benda yang sudah disepakati di awal. Apabila tidak sampai untuk menyentuh benda-benda tersebut, dapat juga menggandeng temannya yang sudah memegang benda-benda tadi. Ketika saya kecil, saya biasanya bermain rambatan setiap istirahat sekolah karena waktunya cukup sedikit dan permainan ini tidak terlalu bayak menghasilkan keringat. 

Permainan yang Perlu Dilestarikan

Permainan tradisional yang sederhana tapi menyenangkan harus selalu dikenalkan kepada anak-anak. Hal tersebut dikarenakan supaya permainan tradisional tetap eksis di kalangan anak-anak dari satu generasi ke generasi lainnya, serta untuk kebaikan anak-anak itu sendiri. 

Permainan tradisional sangat bermanfaat bagi anak-anak, diantaranya menambah kemampuan anak untuk berinteraksi dengan orang lain, mengurangi angka obesitas pada anak karena hampir seluruh permainan tradisional memerlukan aktivitas fisik seperti lari, mengajarkan anak untuk dapat menerima sebuah kekalahan, serta membantu anak dalam menjaga kestabilan emosi dalam bermasyarakat. 

Banyak sekali bukan manfaat yang didapat dari bermain permainan tradisional? Yuk, kita lestarikan supaya anak cucu kita dapat bermain dengan kawan-kawannya nanti.


Demikianlah tulisan Permainan yang Mudah dan Bermanfaat, Yuk Lestarikan! yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Shabrina Riskya Madjid. Trimakasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Permainan yang Mudah dan Bermanfaat, Yuk Lestarikan!"

  1. Wah anak zaman now mana tau beginian ya πŸ˜‚ Saya cukup bersyukur masa kanak-kanak saya masih berjumpa dengan permainan semacam ituπŸ‘

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel