PLAY NOW “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”


Faktaanak.com - Masa anak-anak menjadi momen yang paling dirindukan oleh sebagian besar orang. Tentu semua sepakat bahwa kisah dalam masa ini menjadi bagian yang tak terlupakan, yakni saat kita mulai menemukan dan belajar hal baru. Kehidupan pertama, pembelajaran pertama, pun perasaan pertama yang kita alami akan bermula pada masa ini. Sehingga tak heran bila para orang tua sangat memfokuskan perhatian, kasih sayang, dan pendidikan pada tahapan pertumbuhan dan perkembangan dini anak. Singkatnya life begun when you were child

Kisah Dunia Anak itu Menarik

Segala kisah yang berhubungan dengan dunia anak baik bagaimana mereka tumbuh, kelincahannya, atau kepintarannya akan selalu menarik untuk dibicarakan. Terlebih momen-momen serba pertama yang ia lalui. Seperti pertama ia kali makan, pertama kali ia berjalan, pertama kali ia berbicara, pun pertama kali berinteraksi dengan teman barunya. Sungguh menyenangkan. Tak jarang sikap polos dan riang khas anak-anak turut menularkan energi positif bagi orang yang melihatnya. Ingatlah saat senyuman si kecil membuat kita luluh dan tersenyum balik ke arahnya, atau dengan mudahnya kita mencium saat ia berhasil membuat kita jatuh cinta pada tatapan matanya, sesederhana itu. 

Belajar dari Kehidupan Anak-anak

Mungkin benar jika ada istilah yang menyatakan bahwa kita perlu banyak belajar dari kehidupan anak-anak. Tengoklah sekali lagi, bagaimana gigihnya sang anak mencoba berjalan meski terjatuh berkali-kali, ia lelah? Sayangnya hanya guratan senyum dengan barisan gigi yang tergambar disana. Lalu ingatlah lagi, bagaimana ia mampu memaafkan kesalahan sepele temannya, ia marah? Lagi-lagi mungkin ia akan berpikir tidak ada manfaatnya marah jika harus menjauhkan dari teman bermainnya. Atau coba renungkanlah tentang semangatnya menemukan hal baru, seakan mereka begitu antusias untuk bereksplorasi. Tentu banyak sekali pembelajaran yang dapat kita ambil dari kesederhanaan yang sang anak hadirkan. Cukup hal sederhana yang memberikan motivasi tak terkira bagi sang dewasa.

Mereka, mungkinkah itu hanya mereka. Atau mungkin kita hanya lupa untuk menyadari bahwa mereka, anak-anak yang kita bicarakan, adalah diri kita puluhan tahun silam. Lalu kini semua berubah dan sang anak telah menjelma menjadi sang dewasa yang seolah alpa dengan hakikat kepolosan dan keceriaan masa anak-anak. Pembelajaran itu, hilangkah? 


Dunia Anak Telah Berlalu

Satu hal yang pasti, bahwa peran itu telah berganti. Dunia anak yang telah berhasil kita lalui saat ini seolah menjadi saksi bahwa sang dewasa mampu berdiri tegak menggapai mimpi yang ia nanti-nanti. Sekarang tugas baru kita ialah memberikan pembelajaran dan pendidikan terbaik untuk anak-anak yang ada pada masa kini. Tersebab masa anak-anak akan menjadi penentu generasi seperti apa yang akan kita bangun, pun anak-anak hari ini, merekalah yang akan memegang kunci sebagai orang yang membangun. Tentu di masa yang akan datang, semoga. 

Lantas, sang dewasa coba renungkanlah, sudahkah kita bertindak untuk memberikan keceriaan di wajah kecil mereka? Berhasilkah gerakan langkah kita memberi kebahagiaan bagi mereka yang harinya kurang beruntung? Terlepas dari jawaban atas semua pertanyaan, sepertinya sudah sepatutnya langkah dan genggaman itu mulai dikuatkan. Tersebab mendidik bukan hanya tugas orang tua kepada anaknya, bukan hanya kakak kepada adiknya, ataupun guru kepada muridnya, karena mendidik adalah tugas untuk setiap orang yang terdidik. 

Foto: Komunitas Relawan Bambu Pelangi PKN STAN

Sejenak mungkin sang dewasa yang dengan berbagai rutinitas peliknya perlu melihat sekitar, bahwa nyatanya masih banyak anak-anak di lingkungannya yang membutuhkan bantuan. Tak terkecuali saya dan teman-teman Bambu Pelangi PKN STAN, langkah kami dalam membersamai anak-anak itu mungkin masih terbatas dengan berbagai kendala, tapi telah cukup meyakinkah kami bahwa senyuman itu masih tetap ada menguatkan langkah. Mungkin saja, mereka hanya butuh kebersamaan untuk sekadar menikmati indahnya dunia anak. Entahlah. Pendidikan, keceriaan, permainan, seolah begitu sulit mereka didapatkan. 

Lalu, benarkah ada yang seperti itu? Maka cobalah bergerak dan lihat sekitar kita, mulailah, memastikan bahwa anak-anak yang dapat kita jamah telah mendapatkan hak penuh atas masa indah yang seharusnya mereka dapatkan. Ketidakberuntungan yang dialami beberapa anak mungkin menjadi cambuk untuk setiap orang bahwa kepedulian memegang peranan penting, setidaknya untuk saat ini. 

Momok Mengerikan bagi Perkembangan Anak Masa Kini

Tak hanya rumitnya kehidupan yang harus ditanggung beberapa anak, perkembangan jaman yang ada seolah turut memberikan momok mengerikan bagi perkembangan anak masa kini. Istilah kid zaman now menjadi bukti konkrit bahwa perkembangan teknologi dan pergaulan telah benar-benar memposisikan diri sebagai masalah serius yang harus dicermati. Kehidupan telah jauh berubah, terpengaruh tumbuhnya peradaban yang mempengaruhi karakter dan kehidupan anak. 

Jadi, mari cermati dan kembali ke pernyataan awal. Bukankah dunia anak menjadi hal yang sangat berharga dan sayang untuk dilewatkan dengan kesia-siaan? Lalu tegakah kita untuk membiarkan anak-anak hidup dalam dunia anak yang kelam? Tentu tidak jika kita masih mau melihat peradaban masa depan menemui nasib baiknya. 

Maka perlulah adanya pola pembelajaran yang dilakukan oleh mereka yang bertanggungjawab mendidik, sekali lagi bahwa ini adalah tugas bersama untuk mereka yang merasa terdidik. Lalu bagaimana kiranya pola pendidikan untuk anak masa kini atau kid jaman now dalam menghadapi masa depan? Pertanyaan besar itulah yang akan dijawab dengan jalan solutif yaitu langkah “PLAY NOW”. Mendidik dengan pola PLAY NOW. Apa itu?

1. P untuk “push into best educational system”

Setiap orang yang bertanggungjawab atas pendidikan setidaknya harus mampu memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak yang dididiknya. Pendidikan yang dimaksud bukanlah hanya tentang standard kurikulum atau nilai yang dijadikan patokan, tetapi lebih ke pendalaman karakter dengan mengenali dan mengakrabkan diri dengan dunianya. Memposisikan diri sebagai sahabat dekat anak setidaknya menjadi langkah awal untuk membentuk karakter dan potensi terbaik yang mereka punya. Jangan biarkan mereka sendirian dalam mengenal hal yang terlalu dini untuk mereka, terus dampingi dan ajari dengan cara yang baik dan menyenangkan.

2. L untuk “Less Gadget and Social Media”

Potensi terbesar munculnya pengaruh yang kurang baik untuk anak adalah melalui media sosial dan alat elektronik. Sehingga dalam penggunannya perlu adanya peraturan khusus untuk mengurangi intensitas dalam mengoperasikan. Gunakan hal-hal tersebut hanya untuk selingan yang tentunya ada unsur pendidikan di dalamnya. Jika perlu gunakanlah system reward and punishment, sekadar untuk mengelola waktunya dalam bermain gadget dan belajar. Selesaikan belajar baru boleh bermain gadget atau menonton TV, misalnya. 

3. A untuk “Action for them”

Pola pendidikan yang telah diterapkan tentu akan semakin mudah dan terpatri kuat di ingatan anak jika mereka mendapat role model yang tepat untuk ditiru. Maka segeralah berperan menjadi bagian dari sosok model untuk mereka. Contohkan hal-hal yang baik sehingga mereka merasa bahwa hal baik itu memang perlu untuk dilakukan. Dengan langkah ini maka pola pembelajaran yang didapatkan sang anak dapat lebih mudah dipraktikkan. Akhirnya proses mendidik dapat dilakukan dengan sederhana dan menyenangkan.

4. Y untuk “Yes Interaction!”

Jangan lupa untuk ajarkan mereka mengapresiasi teman atau lawan bicaranya. Biasakan sang anak untuk berkata Thanks, Sorry, dan Please. Ketiga hal itu dapat mengajarkan mereka untuk berinteraksi dengan sopan dan penuh apresiasi dengan lawan bicaranya. Interaksi menjadi hal yang sangat penting, terlebih di jaman serba internet sekarang ini. 

Maka, PLAY tentunya dapat digunakan oleh siapapun yang ingin memberikan yang terbaik untuk generasi yang akan datang. Lalu kapan melakukannya? Kapan lagi jika bukan NOW. Diharapkan pola PLAY NOW mampu memberikan jalan keluar atas permasalahan dalam berinteraksi dengan anak. Tersebab anak adalah generasi berlian yang akan membawa arah kehidupan bangsa di masa depan, maka disinilah letak tanggung jawab kita sebagai generasi saat ini dalam mengupayakan masa depan.

Mari mulai dari diri sendiri untuk menjadi seseorang yang mampu mengukir senyum tulus untuk kebahagiaan anak-anak Indonesia, jadi siapkah kita menjadi sahabat sang anak?

Demikianlah tulisan PLAY NOW “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Vianida Hardiningsih. Trimakasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "PLAY NOW “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”"

  1. Pendidikan karakter yang utama diawali dari keluarga.. embrio dari PLAY NOW sesungguhnya adalah komitmen kedua orang tua..bagaimana membersamai anak anak bertumbuh dg visi misi yang sama. Terimakasih artikelnya... tersebab buah tak kan jatuh jauh dari pohonnya. Begitu pula anak..cerminan dari bagaimana orang tuanya..#berkaca

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel