Cara Membaca Puisi

I Am Also A Child (Saya juga seorang anak kecil)


Faktaanak.com - Jika kita sedang membicarakan tentang anak-anak, apa yang pertama kali terlintas? Jika kalian bertanya padaku, tentu aku akan menjawab, “Itu adalah masa yang paling menyenangkan di antara ke-16 tahun hidupku ini”. Jika kalian mengingat masa kecil dulu, terkadang itu akan menjadi hal yang membuat kita tertawa, sedih, kecewa, ataupun marah. Apakah kalian merasakan hal yang sama? Inilah aku.

Berbeda dengan Anak Lain

Aku adalah anak SMA yang selalu sedikit terlambat dari orang-orang kebanyakan. Terlambat berfikir, terlambat mengerti, terlambat respond, juga terlambat dari hal yang umum. Ketika orang-orang sudah mulai menyukai lawan jenisnya di waktu SD, aku masih memikirkan perasaan tidak enak, tidak seru, dan sebagainya dikarenakan berbeda kelas dengan teman dekatku, ataupun memiliki perasaan cemburu karena teman dekatku bermain dengan orang lain. Bahkan ketika SMP, aku lebih sering diam dan berusaha menghindar dari seorang teman yang sangat aku suka (bahkan kata suka pun aku tujukan kepada teman) karena ia sedang bersama orang lain, dan aku berpikir sangat kekanakan saat itu sepertinya, “Aku takut mengganggu mereka”. 

Mencoba Pengalaman Baru

Tidak hanya itu, saat kelas 5 SD, ketika orang-orang sudah memikirkan SMP mana yang mereka inginkan, aku masih menjawab tidak tahu jka ditanya, hingga akhirnya di kelas 6 ibuku bertanya, “Kamu mau sekolah dimana? Negri? Swasta? atau boarding?”, “Boarding aja ya bu? Kayak mbak?”. Pada saat itu, dimulai dengan sikap ikut-ikutan ku, aku pun memutuskan untuk sekolah berasrama dengan mencoba pengalaman baru. Mungkin orang-orang akan berpikir aku percaya diri dapat diterima di sekolah tersebut sehingga hanya daftar di sekolah itu, tapi sebenarnya bukan karena itu, melainkan aku benar-benar tidak tau SMP yang bagus itu apa saja.

Keinginan untuk Kembali Ke Masa Kanak-kanak

Setiap saat aku terlalu melamunkan diri sendiri, aku semakin merasa ingin menghilang dari dunia ini, aku juga terkadang ingin rasanya memiliki keberanian untuk melarikan diri dari rumah, bahkan aku pun pernah berharap untuk lebih cepat meninggalkan dunia yang fana ini. Tapi tidak lama setelah lamunanku berakhir, aku mulai mengobrol lagi, bercanda lagi, ataupun melihat orang-orang bermain dan tertawa. Dari itu, aku kembali berpikir, “Aku sangat ingin kembali ke masa TK ataupun playgroup, saat itu aku tidak ingat belajar apa, aku hanya bermain-main”, itulah yang sering kuucapkan tiba-tiba ke temanku. Tidak ada hal yang benar-benar kupikirkan saat itu.

Menjadi Anak yang Sulit Dipahami

Hingga sekarang, bahkan di akhir paragraf yang kubuat ini, aku masih belum dapat mengerti dan memahami. Ketika banyak hal yang benar-benar kupikirkan, aku mulai berpikir, “Kenapa aku banyak sekali kekurangan? Ataukah orang-orang hanya dapat melihat kekurangan?”. MUNGKIN di sekolah banyak yang menganggap aku hebat, tapi bukankah mereka tidak benar-benar mengenalku? Di rumah, aku terlihat seperti barang lama yang dapat dibuang kapan saja. Kenapa orang tua sering mengatakan tidak memahami anaknya sendiri ketika bahkan belum mencoba untuk memahami? 

Anak Butuh Dukungan Orang Tua

Kenapa orang tua dan anak sering tidak sependapat? Mengapa anak harus dapat memahami orang yang lebih tua? Walau mencoba untuk memahami tapi tidak bisa, bukankah itu suatu hal yang wajar bagi anak-anak? Orang tua pernah menjadi anak-anak, jangan hambat mereka karena takut mengalami hal yang sama, tapi dukung dan terus bantu untuk tetap pada garis yang lurus supaya tidak terjatuh. 

Sedangkan anak-anak belum pernah menjadi orang tua, ia tidak memahami seperti apa beratnya mengurus rumah tangga dan keluarganya. Maka dari itu, coba untuk jelaskan mengenai orang tua tanpa emosi, karena anak mudah takut dengan emosi marah, kesal, dsb. Hal itu dapat mengganggu konsentrasi dan pikiran anak untuk dapat melakukan sesuai nasihat orang tuanya. 

Maaf bila ada kesalahan kata, sebelum akhir, saya mohon maaf dan ingin mengingatkan kembali bahwa saya adalah manusia, yang dapat lupa dan salah. Saya juga punya hati.

Demikianlah tulisan I Am Also A Child yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Melati. Trimakasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "I Am Also A Child (Saya juga seorang anak kecil)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel