Jurusan Kebidanan dari Mata Kuliah dan Peluang Kerja

Tanggung Jawab Untuk Si Sulung


Faktaanak.com - Halo Semua!. Untuk pertama kali nya saya membuat tulisan tentang fakta anak, saya harap ini dapat bermanfaat, baik menghibur atau menambah wawasan. Kita tau bahwa anak merupakan titipan dari Yang Maha Kuasa, seiring berjalannya waktu anak akan menjadi dewasa, dan pasti melalui banyak sekali kenangan indah saat menjadi anak-anak, karna saat itu rasa nya kita bebas aja gitu, gak ada beban. Kalo kata bapak saya sih zaman nya merdeka, hehe. Pasti setiap orang punya pengalaman kecil nya masing-masing yang mengesankan. Tapi pada tulisan saya sendiri saya akan berbagi cerita tentang pengalaman saya sendiri hehe.


Anak Pertama dari Tiga Bersaudara

Sebenarnya bisa dibilang saya masih termasuk anak zaman now sih, tapi ya beda lah saya agak tua sedikit dan tolong jangan dipukul rata bahwa anak zaman now itu kesannya buruk gitu, kan nggak adil. Tapi walaupun begitu alhamdulillah saya masih merasakan indah nya masa kecil saya tanpa terpengaruh teknologi. Dan bermain dengan alam menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan dari pada bergerombol nontonin video di tab atau berselfie-wefie ria. Dengan orang tua pun gak pernah yang namanya maksain kalau memang gak mampu, kecuali keperluan sekolah lah ya. Dan saya sendiri anak pertama dari 3 bersaudara.

Anak Pertama Memegang Harapan Besar

Seperti pada umunya saya sebagai anak pertama juga pernah merasakan kenikamatan penuh dari orang tua saat masih bayi, balita, sampai.. ya saya punya adik lagi , karna kita ya saat itu seperti satu-satunya dan yang pertama kali jadi mungkin lebih spesial aja gitu kali ya. Tapi lambat laun, seiring masuknya saya ke masa-masa remaja saya jadi menghubungkan semuanya. Bukannya berprasangka atau bagaimana. Karna saya sendiri merasakan, yang dulu nya seperti jadi satu-satunya tiba-tiba jadi mendapatkan tanggung jawab besar. 

Bahkan seluruh keluarga besar yang entah kenapa tiba-tiba juga memberikan tatapan tajam dalam artian harapan. Yah, saya tau jika saya berhasil mereka akan mengangguk mengucapkan selamat dengan mantap, tapi bila saya gagal mereka akan menunduk melihat diri yang rapuh kecil ini menjadi terasa sekarat, atas hujaman sikap maupun perkataan nya. Orang tua saya pun tidak mengatakan secara langsung memang, tapi dari tindakan-tindakan yang mereka berikan kepada saya itu sudah sangat jelas. Mereka juga memiliki harapan. 

Anak Sulung Menggenggam Tanggung Jawab

Tanggung jawab, dari saya yang harus menjaga adik saya sepenuhnya saat masih terbilang juga anak-anak yang ingin bermain, kemudian saat adik saya yang terakhir juga sama, saat teman-teman seusia saya harus belajar dengan tekun, saya harus pandai-pandai membagi waktu dengan semua tanggung jawab saya. Yang pada akhirnya saya memang kurang fokus. Saya tidak dididik begitu keras atau detail soal pendidikan, karna itu juga saya mengerti mengapa saya tidak diarahkan ke akademik waktu smp, saya dibiarkan mengambil ekskul sebebas-bebasnya. Yang kemudian saya sesali sekali menyia-nyiakan perlombaan akademik yang sebenarnya saya memiliki peluang di beberapa bidang, karna saya tahu sebenarnya orang tua saya mengharapkan saya membawa pulang piala atas nama saya sendiri.

Sampai waktu saya masuk ke SMA seorang sahabat yang menyadarkan saya, bahkan saya sampai sangat dekat dengan keluarga nya. Yang kemudian banyak sekali hal yang saya pelajari dari keluarga tersebut, dari tata krama yang sangat halus, sampai ke peran saya sebagai anak terutama. Dari situ, semakin lama saya mengerti orang tua saya memberi sebuah harapan kepada saya untuk bertanggung jawab atas pendidikan yang saya tempuh, saya sebagai anak pertama tidak hanya harus pandai dalam pendidikan tetapi juga di dapur karna saya wanita, tapi saya lebih suka kata-kata tersebut dibalik menjadi “tidak hanya harus pandai di dapur tapi juga harus pandai dalam pendidikan” .  Karna sejatinya ketika mendidik anak kelak, saya paham betul dari wanita harus punya sifat keibuan dan kecerdasan untuk menghasilkan generasi yang cerdas. Dan ketegasan ini yang tidak pernah saya lihat dari keluarga saya. 

Belajar dari Pengalaman

Saya pikir hal ini memang perlu diperhatikan. Sebelum jadi orang tua lebih baik belajar dan mulai menyusun keluarga seperti apa yang akan dibangun , bukan hanya rencana, tapi suatu hal yang harus diterapkan. Saya belajar dari pengalaman dan dari lingkungan, sesuatu tidak akan berubah sampai kita sendiri yang merubahnya. Mungkin memang masa remaja saya tidak didampingi penuh oleh kedua orang tua saya yang sibuk bekerja, adik-adik yang dilimpahkan kepada saya dalam merawat nya di setiap waktu yang harus bisa saya senggangkan. Bahkan saya paham betul orang tua saya tidak selamanya sanggup membiayai pendidikan mereka, maka mungkin bisa jadi saya juga berbagi tanggung jawab tersebut. Tapi mereka tak pernah berbagi cerita dengan saya, yang sebenarnya saya memahami sedikit-demi sedikit posisi mereka.

Dididik Menjadi Seorang Pemimpin

Mungkin banyak yang berpikir berat sekali menjadi anak pertama, tapi dari pengalaman yang mengajarkan saya, kami memang terbentuk sebagai pemimpin, harus beberapa langkah lebih maju untuk menghadapi berbagai kemungkinan, baik atau buruk, bertanggung jawab untuk menggantikan posisi yang utama bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. 

Tapi terlepas dari semua hal itu, saya sangat bersyukur menjadi anak pertama yang memang lahir sebelum era zaman “now” , masih bisa merasakan permainan hits tradisional yang sekarang ini perlahan mulai pudar, dan dapat belajar lebih baik, mengambil hikmah yang dapat dijadikan pelajaran, dan pastinya mandiri lebih dulu karna saya sadar kehidupan saya sendiri agak sedikit berbeda dari teman-teman 17 tahun umumnya.


Sebagai anak pertama yang sudah jelas menjadi harapan, mana mungkin saya bisa berleha-leha tanpa membuat prestasi dan hal yang menyejukkan mereka seperti kedekatan dan keharmonisan. Jika tidak, lalu apa yang dibanggakan dari seorang anak setelah semua jasa yang diberikan orang tua?


Demikianlah tulisan Tanggung Jawab Untuk Si Sulung yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Chatlin Mulalinda. Trimakasih.

Belum ada Komentar untuk "Tanggung Jawab Untuk Si Sulung"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel