Masa Kecilku Menjadi yang Terakhir


Faktaanak.com - Kita tidak dapat memilih bagaimana dan seperti apa kita dilahirkan di dunia ini. Semua pasti telah direncanakan dan diatur oleh sang pencipta. Saya dilahirkan menjadi anak terakhir, yaitu anak keempat dari empat bersaudara dengan 2 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya sebagai anak keempat sekaligus anak terakhir dalam keluarga yang mungkin juga dirasakan oleh para pembaca.

Anak Terakhir Dimata Masyarakat

Jika orang berbicara mengenai anak terakhir, mungkin sebagian dari kita akan mendengar pendapat bahwa anak terakhir itu paling dimanja. Terkadang memang ada hal yang tidak boleh kita lakukan sebagai anak terakhir karena orang tua menganggap kita belum tahu atau belum mengerti dan akan menyusahkan apabila melibatkan kita dalam hal tersebut. Lama-kelamaan kebiasaan inilah yang membuat kita terus bergantung pada kakak-kakak dan orang tua.

Selain itu, saya sering mendengar bahwa anak terakhir itu kemauannya pasti dituruti oleh orang tua. Akan tetapi, saya tidak tidak merasa seperti itu karena kedua orang tua saya selalu adil dan memberikan perhatian kepada anak-anaknya sama rata. Salah satu contoh kecilnya saat sedang pergi keluar rumah tidak lengkap sekeluarga. Ibu pasti terpikirkan orang rumah yang tidak ikut pergi dan pulang dengan membawa sesuatu untuk mereka. Dan hal tersebut menjadi kebiasaan yang masih ada sampai sekarang.

Apabila para pembaca yang mempunyai seorang adik mungkin akan merasa bahwa mereka lebih dinomor satukan oleh orang tua daripada dirinya sendiri. Akan tetapi, jika dipikirkan wajar saja orang tua memberikan perhatian lebih pada anaknya yang lebih kecil, karena memang mereka lebih membutuhkan perhatian-perhatian itu untuk mengenalkan dunia lebih dalam lagi. Mungkin kalian tidak menyadari bahwa kalian juga pasti telah diberi kasih sayang dan perhatian yang lebih dari kedua orang tua kalian pada saat dulu kalian berusia sama seperti adik kalian tersebut dan kini saatnya biarkanlah adik kalian yang mendapatkan kesempatan itu. 

Belajar dan Bermain bagi Anak Terakhir

Sejak kecil saya sudah dilatih untuk hidup mandiri oleh kedua orang tua saya. Ayah saya hanya mendampingi saya saat mendaftar sekolah TK yang dekat dengan rumah. Setelah itu dan seterusnya saya pergi sekolah naik sepeda sendiri. Beliau sengaja mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah yang dekat dengan rumah supaya lebih mudah untuk mengawasi anak-anaknya. 
Orang tua saya memberikan kebebasan bagi anak-anaknya dalam bermain dan belajar. Sejak TK saya banyak mengikuti kegiatan seperti drum band, lomba tari, lomba senam, dll. Masa kecil saya penuh imajinasi karena saya sering bermain sendiri di dalam rumah. Kakak-kakak saya sibuk sekolah dan kedua orang tua bekerja. Tidak seperti kebanyakan anak lainnya yang punya banyak boneka barbie, beruang, atau boneka lainnya, saya suka membuat mainan saya  sendiri dengan menggunting gambar-gambar orang atau tokoh kartun dari koran atau majalah anak dan kemudian memainkannya. Ketika saya bermain, saat itu juga saya sekaligus menjadi penjaga pintu rumah yang menunggu hingga kakak-kakak dan kedua orang tua saya pulang.


Suka dan Duka Menjadi Anak Terakhir

Kakak perempuan saya yang secara fisik hampir sama dengan saya membuat orang tua saya sering membelikan kita baju kembar. Kita juga sering saling pinjam-meminjam barang, seperti baju, sepatu, aksesoris, dsb jika ingin pergi keluar rumah.

Menjadi tempat Penampung Terakhir Baju dan Barang

Ini menjadi keuntungan bagi saya yang dulunya tidak tahu sama sekali tentang fashion dan saya sekaligus juga merupakan tempat penampungan terakhir baju dan barang bekas milik kakak-kakak saya. Tidak hanya baju dari kakak perempuan saja, melainkan baju-baju milik kakak laki-laki saya yang sudah kekecilan, asalkan masih layak pakai akan diberikan kepada saya.

Selalu Mendapat Tugas dari Kakak

Sering diperintah oleh kakak-kakaknya merupakan salah satu risiko menjadi anak terakhir. Terkadang perintah yang diberikan orang tua kepada kakak saya pun juga dilimpahkan ke saya. Saya pun mau tidak mau mengerjakannya. Entah hanya perasaanku saja atau tidak, tetapi apabila saya menolak mereka akan cuek seketika dan akan terasa canggung. Jadi, selagi saya bisa melakukannya saya akan lakukan daripada saya tidak punya teman bermain hehehe.

Bisa Belajar dari Pengalaman Kakak

Sebuah keberuntungan menjadi seorang anak terakhir karena saya dapat banyak ilmu dan belajar dari pengalaman kakak-kakak saya. Mereka yang hidup lebih dulu dan memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada saya membuat saya bisa mendapatkan informasi yang cepat mengenai suatu hal dan dapat belajar dari kesalahan mereka terdahulu.


Bersyukur Atas Anugerah Tuhan

Menjadi anak nomor berapapun dalam keluarga pasti mempunyai pengalaman tersendiri. Yang terpenting adalah selalu syukuri anugerah Tuhan yang telah memberikan kesempatan pada diri kita sehingga kita dapat terlahir dan merasakan indahnya dunia.

Demikianlah tulisan Masa Kecilku Menjadi yang Terakhir yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Dewi Kunti Laila Ningrum. Trimakasih.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Masa Kecilku Menjadi yang Terakhir"

Posting Komentar