My Story as A Child (Kisahku sebagai Seorang Anak)

-anak-anak-
-anak-anak-

Faktaanak.com - Hai, Namaku Hasna. Aku ingin menceritakan pengalaman menjadi seorang anak dari kedua orang tuaku. Ya, sebelumnya aku ingin bilang kalau aku sangat bersyukur lahir dari orang tua yang sangat mendidikku dan berhasil membuatku sesuai dengan apa yang dididik oleh mereka. Dan, sekarang umurku sudah 15 tahun, aku baru benar-benar merasakan manfaatnya.

Mendapat Pendidikan Bahasa

Sejak kecil, aku sudah diajari bahasa kromo oleh kedua orang tuaku. Jadi dalam bahasa keseharian, aku menggunakan bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia. Bapakku pernah cerita ke aku bahwa waktu kecil, aku pernah bilang, “Makan niku nopo ? (makan itu apa?) ”. Berbicara dengan adikku pun, aku juga dengan bahasa jawa. Bapakku selalu bilang kalau aku harus menggunakan bahasa jawa supaya tidak dilupakan oleh anaknya sendiri. Ya, walaupun jika berbicara dengan teman-teman, aku menggunakan bahasa Indonesia. Apalagi sekarang, di sekolahku, teman-temanku berasal dari seluruh pelosok tanah air, jadi aku memang harus menggunakan bahasa Indonesia. Tapi saat dirumah aku tetap menggunakan bahasa Jawa. 

Didikan Orang Tua yang Ketat

Aku juga di didik untuk tidak berpacaran. Kebanyakan orang tua juga akan bertindak seperti orang tuaku, apalagi kalau anaknya perempuan semua, orang tua akan lebih protektif dengan anaknya. Hal itulah yang aku alami. Aku hanya dua bersaudara. Sebetulnya aku anak kembar, namanya Husna. Tapi seminggu setelah lahir, dia meninggal. Namun, meskipun kami tidak boleh berpacaran, orang tuaku tidak melarang kami untuk tidak bermain dengan lawan jenis. Adikku saja teman-temannya kebaanyakan laki-laki. 

Dan hal inilah yang paling aku syukuri atas apa yang mereka didik kepadaku. Melihat zaman sekarang, banyaknya kasus tentang kenakalan remaja yang sangat tidak bermoral, aku merasa terlindungi karena orangtuaku. Dan mereka tidak salah menempatkanku di sekolah Boarding School. Meskipun jauh dari rumah, yang karena itu orang tuaku mungkin jadi lebih sedikit dalam hal pengawasan, tapi mereka tidak perlu merasa khawatir terhadapku terhadap hubunganku terhadap lawan jenis “pacaran”, apalagi sekolahku yang berlokasi di pusat kota Yogyakarta, karena mereka sudah mendidikku dan yakin bahwa aku bisa menjaga kepercayaan mereka.

Pendidikan tentang Keuangan

Satu hal lagi, Orang tuaku juga selalu mengajariku untuk menggunakan uang dengan pintar. Tidak boros terhadap uang. Setelah bersekolah di Yogya, saat meneleponku, Ibuku selalu bilang, “Mbak, kamu disana jangan terlalu mengandalkan uangmu. Kamu harus lihat teman-temanmu yang dibawah. Dan kamu disana tugasnya itu belajar. Uang tanggungan sekolahmu biar ibu yang urus “. Dan satu hal yang selalu menjadi kalimat favoritku dsekaligus yang membuatku untuk tetap semangat dalam belajarku, “Ibu sama Bapak nggak akan merasa capek buat ngeluarin uang buat anak-anaknya kalau anaknya berusaha buat banggain ibu bapaknya. Tapi kalau anaknya malah tidak memanfaatkan apa yang telah ada, Ibu sama bapak malah merasa tidak ada hasilnya mengeluarkan uang tapi tidak di pergunakan dengan sebaik-baiknya”.

Ketiga hal itu yang sekarang aku syukuri dari kedua orang tuaku dan aku rasakan manfaatnya. Orang tuaku juga mengajariku untuk beribadah dengan rajin, sopan santun dijaga dan sebagainya, tapi ketiga hal itu yang paling membuatku menjadi “orang”. Memang pengalaman hidupku mungkin tidak terlalu “wow” bagi kalian atau tidak terklalu menarik, tapi aku berharap semoga kalian yang membaca ini bisa menjadi manfaat bagi kalian. 

Demikianlah tulisan My Story as A Child yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Aisyah Hasna. Trimakasih.
-anak-anak-

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "My Story as A Child (Kisahku sebagai Seorang Anak)"

Posting Komentar