Seorang Anak Tunggal, Perempuan, dari Keluarga Tidak Utuh


Faktaanak.com - Setiap anak merupakan pribadi yang unik. Sifat dan kepribadian anak pada dasarnya memang terbentuk oleh lingkungan sosial awal yaitu keluarga. Ayah dan ibu mempunyai peran dan dampak yang besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama pada masa golden age atau saat anak berusia 0-6 tahun. Namun, kehadiran kakak atau adik si anak juga dapat berperan dalam membentuk sifat dan karakter seorang anak. 

Pereraian akan Berdampak Buruk pada Perkembangan Psikologis Anak

Lalu bagaimana dengan anak tunggal yang mempunyai keluarga yang tidak utuh, anak perempuan lagi, apakah ia akan mencari tempat pelampiasan yang tidak baik? Atau justru anak perempuan itu akan berambisi mengejar mimpinya untuk menunjukkan pada dunia dan berkata bahwa ia baik-baik saja? Ya itulah saya, yang merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Seorang anak perempuan tunggal yang telah berpisah dengan sosok ayahnya sejak masih berusia 1 tahun. Menurut Leslie (1967), reaksi anak terhadap perceraian orang tua akan sangat tergantung pada penilaiannya terhadap pernikahan orang tua serta rasa aman yang diterimanya saat bersama dengan keluarga. Ketika kondisi keluarga sebelum perceraian memang tidak baik, nantinya akan berdampak buruk pada perkembangan psikologis anak. 

Anak Perempuan Akan Tidak Percaya Lagi dengan Laki-laki

Namun, pada saat itu kemungkinan saya tidak menunjukkan reaksi apapun karena memang usia saya yang masih 1 tahun. Sejak saat itu pengasuhan anak sepenuhnya jatuh kepada ibu. Apakah saya akan menganggap bahwa ayah adalah sosok yang telah mengkhianati kami? Mungkin kebanyakan orang berkata bahwa kepercayaan anak perempuan untuk seorang laki-laki ditanam pertama kali pada sang ayah. Ya itu memang benar adanya. Bisa saja anak perempuan itu terlihat baik-baik saja, namun faktanya mereka tidak lagi percaya pada sosok laki-laki. 

Pada pertumbuhan dan perkembangannya,  si anak tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas. Meskipun banyak peristiwa pahit yang terjadi pada usia emasnya (0-6 tahun) yang seharusnya dipenuhi dengan kasih sayang ayah dan ibunya. Namun sejak saya kecil, sosok yang menjadi single parent luar biasa bagi saya adalah ibu. Dengan penuh kesabaran dan kehangatan kasih sayang, ibu mendidik saya membaca dan mengaji. Ibu mempunyai prinsip bahwa sebelum saya dididik oleh guru di sekolah maupun ustadzah tpa, ibulah madrasah yang pertama akan mendidik putri tunggalnya. 
Ibu memang pendidik yang luar biasa, sejak berada di Taman Kanak-kanak sampai masuk SD, Dian kecil selalu mendapat predikat bintang kelas. Namun peristiwa gempa bumi di Yogyakara pada 26 Mei 2006, membuatnya kembali memiliki trauma hingga sekarang, dan ibulah orang yang sangat bersyukur bahwa putri tunggalnya selamat. Semenjak peristiwa itu, Dian kecil tidak lagi menjadi bintang kelas, hanya masuk tiga besar kelas. Pada 2017, saya bermimpi untuk lolos SBMPTN 2017 dan kuliah gratis. 

Anak Perempuan Merindukan Ayahnya

Saya hanya yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah mengijinkan. Hingga pada akhirnya, saya lolos dan masuk UNY prodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan mendapatkan kesempatan menerima Beasiswa Tahfidz Quran for leader. Alhamdulillah. Lalu mengapa memilih pendidikan anak, sedangkan diri sendiri mempunyai masa sulit pada usia golden age? Salah satu alasanya adalah bahwa saya ingin kelak anak dan peserta didik saya mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang baik sehingga menjadi generasi yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Lagi-lagi, semua tentang impian, asa dan harapan seorang putri tunggal ini tidak terlepas kehendak Allah swt, serta dari bimbingan, didikan, dan doa dari orang-orang, terutama ibu, dan juga ayah. Ayah, sampai kapanpun saya adalah putri kecilmu yang akan selalu mendoakan kebahagiaan keluarga barumu. Ayah, putrimu merindukanmu. 

Demikianlah tulisan Seorang Anak Tunggal, Perempuan, dari Keluarga Tidak Utuh yang saya buat, mohon maaf jika ada kesalahan dan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pembaca. Penulis dalam artikel ini adalah Dian Fadkhuli Jannah. Trimakasih.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Seorang Anak Tunggal, Perempuan, dari Keluarga Tidak Utuh"

Posting Komentar