Penanaman Berkomitmen dalam Diri Anak

Setiap orang tua tentu menyayangi anak dengan sepenuh hatinya. Mereka selalu menginginkan yang terbaik untuk anak tersayang. Kalimat-kalimat seperti ‘ini demi kebaikan kamu’ atau ‘agar kamu sukses kamu harus jadi seperti Mama/Ayah’.

Seakan kata-kata tersebut menjadi senjata ampuh yang ketika dilontarkan kepada anak, otomatis anak akan menurut. Namun, terkadang keegoisan orang tua seperti memaksa anak untuk menerima segala tuntutan.

Ketika orang tua bekerja sebagai dokter, mayoritas orang tua menyuruh anaknya menjadi dokter. Ketika orang tua bekerja sebagai musisi, mayoritas orang tua menyuruh anaknya menjadi musisi. Padahal, tidak semua anak senang akan pilihan orang tua mereka.

Untuk menuju ke tingkat profesi idaman orang tua, tentu banyak tuntutan untuk sang anak. Tuntutan seperti mengikuti kegiatan untuk menunjang karir masa depan seringkali dipaksakan untuk mencapai prestasi tertentu.

Contohnya, ketika ingin menjadi penyanyi maka harus bisa mendapat juara I dalam kompetisi bernyanyi. Setiap hari sepulang sekolah mereka harus les atau bimbingan privat lainnya. Mulai dari les musik, les bahasa inggris, les vokal, les komputer, dan sebagainya.

Secara tidak sadar cara membuat anak tersebut menjadikan orang tua menuntut sebagai objek yang harus ‘sempurna’. Jadwal dari setiap pembelajaran juga kadang memberatkan anak. Ketika mereka sudah lelah setelah bersekolah, masih harus menjalani berbagai les.

Memang tugas seorang anak adalah belajar. Namun, di usia dini mereka juga perlu bermain sekaligus bersosialisasi dengan teman sepermainannya agar menumbuhkan jiwa sosial dan kepedulian dalam diri sang anak.

Apabila anak terus dipaksa untuk terus menerus mengikuti sesuatu hal yang tidak mereka inginkan, dikhawatirkan anak menjadi pribadi yang pasrah akan keadaan dan tidak berani mengekspresikan pendapatnya.

Ajaran Orang Tua

Mama saya sendiri, tidak pernah memaksakan sesuatu terhadap anak-anaknya. Namun, beliau tetap memfasilitasi setiap keinginan dari anak-anaknya. Boleh saja kami mengikuti kegiatan atau les di sebuah bimbingan belajar, namun di sisi lain kami harus patuh terhadap setiap pilihan yang kita ambil dan harus mengedepankan bidang akademik.

Komitmen

Mama saya mengajarkan pentingnya arti komitmen dan bertanggung jawab. Dalam pemilihan jurusan pun sama. Beliau tidak pernah sekalipun untuk memaksakan kehendak ‘kamu harus jadi ini atau kamu harus jadi itu’.

Kita secara tidak langsung harus berani mengambil pilihan untuk masa depan kita sendiri. Karena hidup ini kita yang menjalani dan orang tua tentu berperan penting dalam mendukung bukan menentukan.

Demikianlah serangakaian tulisan berdasarkan pengalaman tentang Penanaman Berkomitmen dalam Diri Anak. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa memberikan wawasan dan juga pengetahuan bagi segenap pembaca, penulis artikel ini adalah Betris Candra

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Penanaman Berkomitmen dalam Diri Anak"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel