Permainan Jadikan Bahan Pokok Pembelajaran Anak

-anak-anak-
-anak-anak-
Masa kekanakan adalah tahap kedua setelah masa balita. Masa kanak-kanak merupakan proses pembentukan karakter yang mana anak-anak akan men-copy setiap hal yang tertangkap mata. Baik perilaku, gaya bicara, cara berfikir, atau tindakan dalam menyelesaikan masalah.

Pembelajaran Anak


Semua itu bersumber pada objek. Objek tersebut adalah orang tua, teman, dan masyarakat. Jika kesan pertama mereka copy adalah menyenangkan, maka anak berfikir semua hal itu dilakukan dengan senang, happy dan sebaliknya, anak berfikir semua hal itu mengerikan, menakutkan, atau lebih parah dari itu.

Hal semacam ini terlahir bersama dengan takdir yang ditulis tuhan kepada manusia. Karena masamasa anak, rasa ingin tahu yang tinggi terhadap suatu barang atau perkara asing. Dengan apa adanya yang dilakukan atau terlihat dimata, anak langsung menyimpulkan pertanyaan yang ada di benaknya dengan jawaban yang dilihat.

Syeh zarnuji, pengarang kitab ta’lim muta’lim, meneliti tentang kehidupan belajar anak. Banyak sekali murid mencari ilmu pada zaman ini, perkembangan zaman yang melunjak menjadikan pembelajaran mudah dimengeti.

Namun, tidak ditemuakan pada diri murid kemanfaatan atau buah ilmu. Sehingga, menjadikan keterbodohan di usia anak. Penyebabnya, proses dalam mencari ilmu, tercap menggunakan cara-cara salah, menjerumuskan pada kegagalan, dan bahkan menyesatkan.

Selama penelitiannya, Syeh Zarnuji menyimpulkan hal ini harus diluruskna. Sehingga, terbukulah kitab ta’lim muta’lim dengan tujuan beliau, anak dapat maraih kemanfaatan dan kenikmatan buah ilmu nantinya.

Kita sendiri dapat menyimpulkan bahwa, masa kekanakan mereka berkesan menyenangkan dan bermanfaat di kemudian hari, proses pembelajaran anak, harus benar, tepat, dan yang terpenting, si anak bisa memahami apa yang telah disampaikan.

Akal manusia mengalami perkembangan dari tidak sempurna menuju sempurna. Manusia itu mengalami perkembangan baik tubuh maupun kemampuan berfikir (kecerdasan akal). Oleh karena itu, kecerdasaan akal seseorang itu bisa dipersiapkan dan dikembangkan. Kita harus melakukan pembinaan padanya sejak dini.

Pembinaan ilmu IPTEK (Ilmu Pengetahuan Teknologi) menurut Ilmu Antropologi, pewarisan IPTEK terbagi menjadi 2 metode. Yang pertama, metode Vertikel. Pewarisan dari orang tua ke anak atasan ke bawahan, tua kepada muda. Yang kedua, metode Horizontal pewarisan secara sejajar atau sederajat, baik dari teman, lingkungan, atau seumuran. Dua cara tersebut sangat identik dengan penyampaian atau pewarisan IPTEK kepada anak atau anak mencari jawaban sendiri dari metode-metode tersebut.

Lalu, dengan apa pembinaan yang pantas bagi masa kanak-kanak? Apakah dengan penekanan, kekerasan, agar anak cepat pandai?. Hal tersebut merupakan kesalahan besar. Lalu bagaimana merode pembelajaran yang sesuai takaran masa kekanakan?. Dengan sebuah permainan yang bernilai pendidikan. Selengkapnya, baca; Juta Dolar Pendidikan Orang Tua

Zaman dahulu permainan keseharian anak seperti, kotak umpet, lompat tali, bekel, dakon, dan lain sebagainya. Permainan tersebut memiliki hal positif yang berupa kelincahan, pelatihan pernafasan, perhitungan, ketepatan mengambil keputusan, kekompakan, dan lain senyawa dari hal tersebut.

Permainan tersebut menjadikan otak anak bekerja cerdas dan tanpa sadar mereka belajar dengan cara yang berbeda. jika hal ini diterapkan pada kehidupan anak, bermain sambil belajar. 100% kemanfaatan dapat diraih si kecil, baik segi jasmani maupun rohani.

Berbeda pada zaman sekarang, anak usia dibawah 18 tahun saja , sudah mengonsumsi yang namanya gadget. Di dalam gadget ini mengandung unsur permainan. Namun, permainan khayalan, permainan maya yang hanya dilakukan komputer sesuai apa yang diperintah.

Kesimpulannya, komputer belajar, anak bermain. Lain dengan permainan tradisional. Otak belajar, tubuh bermain. Memang permainan tradisional dan permainan gadget itu sama. Namun, beda jauh kemanfaatannya.

Coba kita teliti, gadget itu menyita waktu si anak. Jam 4 pagi, kebanyakan anak bangun tidur dan tidak lupa menggosok HP karena tersisa sidik jari diatas layar. Sampai jam 6, HP baru diletakkan karena waktu, mandi, makan, dan berangkat sekolah.

Selama 6 jam. Anak dituntun belajar pendidikan. Pulang sekolah, jam 12, anak beraktifitas seperti biasa sampai jam 6 sore, baru HP tergeletak. Dilanjutkan jam 7 malam sampai jam 9 malam, bahkan ada yang sampai jam 12 malam atau jam 1, jam 3, bahkan bisa saja waktu tidur malam untuk istirahat mereka, tersita oleh gadget. Satu hari tidak terlepas dari gadget, walau 6 jam digunakan mencari ilmu, bisa saja. Mereka belajar tentang HP. Baca, juga; Smartphone Dunia Tren Anak Jaman Now

Hal ini belum seberapa jika hari sekolah, bagaimana dengan hari liur sekolah? 24 jam non stop bermain gadget. Jika perilaku ini berjalan di masa kita, berapa kah usia anak sekarang ini? Dan apa yang telah diperbuat selama ini? Pernahkah hari yang lalu pernah kembail lagi? Adakah bekal atau peninggalan yang bermanfaat jika mati nanti? Semua bisa terjawab pada diri masing-masing.

Sebuah pisau akan bermanfaat jika penggunanya benar. Anak nakal, bodoh, atau diluar batas . itu bukan salah mereka. Lalu siapa yang pantas disalahkan? Lingkungan sekitarnya. Kembali kepada pembahasan awal bahwa anak akan men-copy apa yang telah dilihatnya, kerana masa anak, merupakan rasa ingin tahu yang tinggi.

Jika terjawab benar, otak anak positif. Namun, jika terjawab salah, otak anak error. Semua problem pembelajaran anak tergantung orang tua yang memberikan, melainkan dengan pemberian contoh perilaku terpuji, hal-hal yang patut dikonsumsi atau diperaktekkan anak, pembelajaran yang sesuai, permainan yang bermanfaat, dan sebagainya.

Menjadi orang tua merupakan objek foto copy anak, setiap apa yang dilakukannya, anak akan menirunya, satu hal bagi orang tua, tugas mereka dalam perkembangan anak adalah membantunya bukan mengaturnya, karena pandai anak itu diambil dari pengalamannya sendiri, bukan pengalaman orang lain.

Baca Juga;
  1. Keutamaan Menyantuni Anak Yatim dan Manfaatnya dalam Islam
  2. Nama Anak Perempuan Islam dan Artinya [A-Z]
  3. Nama Anak Laki-Laki Islam dan Artinya [A-Z]
Posisi orang tua terhadap anak, memberika arena pembelajaran agar usia anak bisa beradaptasi dilingkungannya. Masa depan anak ada pada tangannya. Demikianlah serangkaian tulisan yang dibuat oleh Fikri Abdurrahman. Trimakasih, 
-anak-anak-

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Permainan Jadikan Bahan Pokok Pembelajaran Anak"

Posting Komentar